13 Kesalahan Umum dalam Penulisan Sinopsis

Pendahuluan

Penulisan sinopsis adalah sebuah penulisan secara umum yang menggambarkan cerita. Tentu berbeda dengan penulisan cerita yang tidak umum adalah prihal kerincian setiap plot dan juga bagaimana proses penggambaran perkembangan karakter (character development). Seumpamanya menceritakan perjalanan, hanya menggambarkan siapa ingin kemana dari mana, lewat jalan apa, dan masalah apa saja yang terjadi dalam perjalanan. Sebuah cerita tentu tidak selalu menceritakan dia sampan ke tujuannya, dan ini lah ending.

Di atas, telah disebutkan beberapa koesep tentang penulisan sinopsis yaitu;

  1. siapa (character)
  2. ingin kemana dari mana, lewat jalan apa (desire)
  3. masalah apa såja yang terjadi di perjalana (conflict), sedangkan
  4. tidak selalu sampai tujuan (ending)
Mari kita bahas satu-persatu, dan kemungkinan adanya permasalahan dalam penulisan sinopsos. Ketika mengacu pada penulisan sinopsis tentu hal ini berlaku pada semua format penulisan, antara penulisan fikri termasuk novel, cerpen atau dongen serta juga penulisan skenario film. Adapun perbedaan akan dijelaskan dibawah ini dengan menunjukan peruntukannya. Akan tetapi sinopsis adalah konsep cerita dengan "bentuk" yang mana memiliki fondasi utama dalam cerita sehingga perlu menyertakan hal tersebut sebagai keutuhan ceritanya.

1. Tidak memahami fungsi sinopsis

Sinopsis dituliskan untuk berbagai fungsi dan setiap fungsi ini memiliki perannya sehingga memiliki tujuan yang berbeda. 
  1. Sinopsis yang dituliskan untuk menggambarkan sebuah cerita yang utuh untuk penulisan novel kepada penerbit (2-3 hal), menyertakan tokoh, pembabakan dalam cerita, plot-polot utama, konflik dan ahir dari cerita tersebut dalam gaya penulisan yang lugas.
  2. Sinopsis yang dituliskan sebagai tahap pengembangan cerita film maupun fiksi, menyertakan pembabakan yang dikembangkan dari premis atau gagasan utama.
  3. Sinopsis yang dituliskan sebagai pengantar review film pada sebuah artikel, menyebutkan premis, plot utama, dan character web serta akhir dari cerita.
  4. Sinopsis yang dituliskan sebagai recensi, menyertakan tokoh utama, keinginan dan konflik (dari pengembangan premis dan juga beberapa plot yang akan menjadi pembahasan atau yang akan dipertanyakan.
2. Tidak memahami bahwa sinopsis memiliki pola. Setiap sinopsis memiliki struktur atau pola tertentu yang terdiri dari unsur-unsur penting seperti karakter, keinginan, konflik, dan resolusi. Jika penulis tidak memahami pola ini, sinopsis bisa terasa kurang kohesif atau tidak menggambarkan alur cerita dengan baik

3. Sinopsis yang baik menyertakan tema cerita. Sinopsis yang efektif harus mencakup tema utama atau pesan inti yang ingin disampaikan oleh cerita. Ini membantu pembaca memahami esensi cerita, bukan hanya rangkaian peristiwa yang terjadi.

4. Tidak memulai dengan sebuah karakter melainkan sebuah adegan. Kesalahan dalam sinopsis adalah ketika penulis langsung mendeskripsikan sebuah adegan tanpa memperkenalkan karakter utamanya. Karakter adalah elemen penting yang memandu cerita, sehingga harus dikenalkan lebih dulu agar sinopsis lebih menarik dan jelas

5. Tidak menjelaskan atau bahkan tidak mengungkapkan keinginan. Setiap karakter memiliki keinginan atau tujuan yang mendorong alur cerita. Jika sinopsis tidak menyebutkan keinginan ini, cerita akan kehilangan arah dan pembaca tidak bisa memahami motivasi karakter.

6. Tidak bisa membedakan keinginan dan kebutuhan. Keinginan adalah apa yang karakter pikir mereka inginkan, sedangkan kebutuhan adalah apa yang sebenarnya mereka butuhkan untuk berkembang atau mencapai tujuan yang lebih mendalam. Sinopsis yang tidak membedakan keduanya dapat membuat cerita terasa dangkal.

7. Sinopsis yang baik menggunakan bahasa visual. Sinopsis yang kuat menggunakan deskripsi yang memancing imajinasi pembaca, seolah-olah mereka bisa "melihat" adegan atau situasi yang diceritakan. Bahasa visual membantu menciptakan kesan yang lebih hidup.

8. Terlalu fokus pada adegan tertentu sehingga tidak imbang. Jika sinopsis terlalu menekankan satu adegan atau detail spesifik, keseimbangan cerita bisa hilang. Fokus utama seharusnya adalah keseluruhan alur, bukan hanya adegan tertentu

9. Menjelaskan plot dan scene melainkan sequence atau act. Sinopsis yang buruk sering kali hanya berfokus pada adegan atau plot kecil, sementara yang seharusnya diperhatikan adalah keseluruhan rangkaian adegan (sequence) atau babak cerita (act). Ini membantu menunjukkan perkembangan cerita secara menyeluruh.

10. Terlalu banyak mengutip dialog. Mengutip dialog dalam sinopsis sering kali tidak efektif karena sinopsis bertujuan untuk memberikan gambaran cerita secara keseluruhan, bukan menampilkan percakapan karakter secara langsung. Terlalu banyak dialog bisa mengalihkan perhatian dari alur, konflik, dan karakter utama yang seharusnya lebih ditonjolkan.

11. Sinopsis yang baik menggambarkan character web (protagonis, antagonis, dan tritagonis). Sinopsis yang baik harus memperkenalkan dan menggambarkan hubungan antara karakter utama (protagonis), karakter yang menentang atau menjadi penghalang (antagonis), serta karakter pendukung atau penengah (tritagonis). Ini memberikan gambaran menyeluruh tentang dinamika konflik dan interaksi yang mempengaruhi perkembangan cerita.

12. Menulis terlalu panjang. Sinopsis harus padat dan jelas, hanya menyertakan informasi penting yang relevan dengan alur cerita. Jika terlalu panjang, pembaca bisa kehilangan fokus dan intisari cerita bisa tenggelam dalam detail yang tidak perlu. Sinopsis yang panjang juga bisa membuatnya sulit dicerna oleh pembaca yang mencari pemahaman cepat tentang cerita.

13. Sinopsis yang baik mengungkapkan akhir cerita. Sebuah sinopsis yang baik tidak hanya menyajikan premis dan konflik, tetapi juga menjelaskan bagaimana cerita berakhir. Mengungkapkan akhir cerita membantu memberikan gambaran lengkap tentang alur dan resolusi, yang penting terutama untuk sinopsis yang ditujukan kepada penerbit atau pembuat film yang perlu memahami keseluruhan cerita.




Posting Komentar

0 Komentar