Cara Cerdas Menulis Cerita - Film dan Novel

Artikel ini kita akan melihat beberapa cara yang menjadi panduan bagi para penulis dalam membuat cerita. Selain itu kita akan melihat beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membandingkan masing-masing sehingga bisa disesuaikan berdasarkan waktu dan juga tujuan dari penulisan tersebut.

Di era modern ini penulisan menjadi sebuah wacana yang terus dipertanyakan eksistensinya, apalagi sekarang kita sudah mencapai teknologi AI yang bisa menggantikan penulis. Akan tetapi, masih banyak kesempatan yang bisa kita gunakan agar tetap eksis dan di saat yang sama bisa berkarya sesuai dengan visi dan misi. Sampai saat ini, sudah banyak karya-karya tulis yang menggunakan narasi untuk menggambarkan berbagai pengalaman kehidupan yang menarik. Dari sekian banyak karya itu tentu juga banyak cerita yang membosankan, tidak realistis dan juga hanya dibuat dalam rangka mencari uang instan dengan cara-cara yang tidak sehat. Hal ini dikarenakan oleh kesalahan penulis ketika tidak bisa mengimbangi antara kreativitas dengan tujuan dari penulisan itu. Akhirnya penulisan cerita sudah tidak lagi menarik untuk dibaca maupun dinikmati. Sebagian penulis yang amatir akan langsung menulis cerita tanpa diawali dengan tahap pra-penulisan seperti menetapkan ide cerita, tema, pesan cerita, karakter plot dan juga bahkan tidak ending-nya seperti apa. Coba bayangkan seorang langsung ke lapangan membangun rumah tanpa denah, atau pilot yang menerbangkan tanpa peta yang mana penulis langsung menulis tanpa kejelasan apa yang akan ditulis.

Untuk dimulai mari kita pertama memahami dulu kebutuhan menulis; Kenapa seseorang mau menulis cerita ? dan tentu ini adalah sebuah pertanyaan yang sangat menarik untuk dijawab. Jika kamu menulis karena untuk mencari untung ya jelaslah harus mencari tema yang trending, karakter yang disukai pembaca, plot yang menarik dan yang paling penting adalah kita tahu audiensnya. Pertanyaan kedua yang perlu dijawab; berapa lama yang diperlukan untuk menyelesaikan satu cerita itu? Jika kamu sibuk dan tidak bisa fokus maka buatlah cerita yang pendek yang bisa diselesaikan dalam waktu 2-3 bulan, atau mungkin dalam sebulan harus selesai. Kenapa "harus" selesai ? kenapa nggak bersantai saja dalam menulis ? INI penting karena menyesuaikan ekspektasi. Sebenarnya di dalam diri kita itu ada kesadaran yang terus mengawasi diri kita, jika kita tidak menyelesaikan cerita itu maka timbul sebuah kekecewaan yang mana membentuk pribadi kita yang negatif sehingga jika kita tidak realistis akan terus menggerus semangat penulis hingga habis dan membuat kita enggan menulis lagi. Coba catat baik baik pertanyaan tadi;

  1. Kenapa seseorang mau menulis cerita ?
  2. Berapa lama yang diperlukan untuk menyelesaikan satu cerita itu?
  3. Kenapa "harus" selesai ? kenapa nggak bersantai saja dalam menulis ?
Selanjutnya untuk mencerdaskan diri kita menulis cerita dalam bentuk film atau novel adalah struktur dramatis. Pahami bahwa semua cerita itu memiliki pola, mulai dari karakter-nya, timing dalam cerita, bahkan babak-nya pun sudah ditentukan. Semua cerita itu memiliki sebuah pola yang berulang ulang, sehingga kadang pembaca sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Disini penulis harus memahami pola umum agar kemudian barulah bisa dimodifikasi sehingga pembaca atau penonton bisa menikmatinya sebagai hiburan. Struktur narasi itu bermacam macam dari yang klasik yaitu 3-act structure, freytag's pyraimid, 8-sequence structure, Save the Cat, Hero's Journey, Monomyth sampai yang paling baku di Hollywood; 15 beat sheet. Penulisan Novel pun demikian, memiliki struktur yang serupa yang mana menjelaskan pola karakterisasi, plot dan juga sub-plot dan jaringan tokoh dalam cerita yang akan membuat pembaca terpukau.

Karakterisasi juga bisa diperdalami dengan memahami archetype untuk pengembangan karakter yang bisa menceritakan tentang perubahan yang baik. Ini, yaitu perubahan adalah inti dari semua cerita yaitu bagaimana pengalaman hidup mempengaruhi seorang diri untuk tumbuh kembang dan menempatkan dirinya pada kehidupan selanjutnya. Inilah pengalaman yang menarik bagi semua insan yang bisa diambil manfaatnya, yaitu pesan tentang perubahan. Semua cerita itu adalah agar penonton berubah dari informasi yang baru yang didapatkan dalam cerita.

Setelah memahami 2 unsur penting yaitu "struktur dramatis" dan "karakterisasi" maka sekarang kita masuk ke dalam pembahasan yang lebih serius yaitu pesan cerita, Tema. Jika sebuah cerita itu diperas maka akan didapatkan sarinya dalam bentuk kalimat yang sederhana. Tema cerita itu penting untuk dinyatakan agar penulis selalu kembali ke tujuan semual penulisan dan tidak keluar atau berganti tujuan. Cerita adalah penyampaian tidak langsung dari tema tersebut yang mana dapat dilihat dari plot, karakter, dan situasi yang terjadi dalam cerita tersebut. Tema seringkali disampaikan secara implisit dan membutuhkan interpretasi dari pembaca atau penonton. Inilah gunanya cerita, kreativitas dalam penggunaan media dalam menyampaikan sebuah pesan secara tidak langsung, terselubung secara halus dan mudah dicerna. Tidak semua orang dengan mudah menerima fakta-fakta, atau memiliki rasa ingin tahu tentang pengalaman tertentu maka disini digunakanlah cerita. Tema juga dikenal dengan istilah "ide cerita" atau "pesan utama" atau juga biasanya disebut sebagai "gambaran besar". Pada blog ini, gagasan tersebut terliputi dalam istilah "ide cerita film" yang mana di dalamnya juga menggunakan "Tema" juga akan tetapi kita harus hati-hati sehingga penggunaan istilah ini tidak saling tumpang tindih. Selain tema juga ada cara lain menghimpun sari yaitu melalui "premis" dan "logline, yang mana juga keduanya berbeda fungsinya dan juga serta langkahnya.

ada beberapa komponen yang juga menjadi bagian penting seperti dialog, bahasa dan twiat (suspence and surprise) akan tetapi kecerdasan dalam menulis cerita adalah bagaimana cerita itu bisa selesai. Ini PENTING, sebagaimana kamu mau mendalami semua unsur tetapi jika ceritanya tidak selesai maka tidak utuh, tidak ada cerita, yang ada adalah janji-janji kosong yang lagi-lagi akan terus mengecewakan diri kita dan pada akhirnya tidak melahirkan karya apapun. Untuk hal itu, kita memerlukan kejujuran saja jika perlu kita realitis dengan kemampuan kita. Ambisi itu perlu perlu perencanaan, catatan yang dibawap-bawa, workshop, pembahasan dengan sesama penulis, rencana kecil yang berakibat besar dan banyak hal lainnya. Memelihara api itu penting dengan cara-cara yang kreatif.  

Posting Komentar

0 Komentar