Perbandingan Film Pendekar Indonesia, antara Timur dan Barat


Banyak orang bertanya, kenapa kita manusia disebut sebagai makhluk yang bersosial (Homo homini socius) ? Kenapa manusia itu perlu berinteraksi ? Jawaban dibalik itu sebenarnya terletak pada bentuk otak manusia yang berjaringan. Film adalah sebuah media yang mana mendorong otak manusia berfungsi sebagaimana mestinya, membentuk jaringan. Kita terkadang melamun dan juga sekaligus menyimak film dan disitulah terjadi hubungan-hubungan yang mengakibatkan otak kita berfungsi. Terlelap dalam tidur pun, otak manusia masih bekerja untuk menghubung-hubungkan. Kata kunci untuk menjawab pertanyaan di awal adalah "jaringan hubungan", karena manusia memiliki otak yang menghubungkan. Akibatknya, dengan bentuk otak seperti itu maka kita melakukan hubungan dengan berbagai hal, termasuk manusia (bersosial, berinteraksi dsb). Otak manusia juga bisa menghubungkan hal-hal yang juga bukan manusia melalui bahasa seperti makna, peristiwa, perasaan dan juga ingatan.

Perjalanan kita hingga dewasa, terdiri atas sejarah hubungan-hubungan ini yang tersimpan dalam bentuk simpuls. Seringnya kita berpapasan dalam simpuls ini maka terjadilah sebuah ingatan, dan bahkan menjadi logika yang membekas. Kita terinpirasi oleh berbagai hal, terutama dengan tontonan kita sewaktu kecil seperti Google V, Kamenrider, Ultraman, Megaloman. Selain TV juga ada videogame dan film-film dari barat seperti Superman, Batman dll. Apa yang kita lihat, membentuk sebuah hubungan-hubungan dalam otak kita yang menggambarkan siapa yang kita tonton. Mereka adalah orang-orang (karakter) yang punya kekuatan, diberi tanggung-jawab (keinginan) namun mengalami hambatan-hambatan (konflik) dalam menjalankan tanggung jawab ini. Ketika menonton film pendekar pada waktu itu, tentu berbeda yang dirasakan jika ditonton sekarang. Itu karena pada  waktu kecil, kita sudah terhipnotis dengan berbagai bentuk warna dan juga aksi serta dialog-dialog yang membangkitkan gairah seorang anak kecil. Itulah yang disebut tontonan yang menarik perhatian dan membuat kita fokus, akan tetapi dibalik itu adalah hubungan makna berupa tuntunan (nilai- nilai) sehingga ketika kita menjadi dewasa membentuk kepribadian kita yaitu tatanan.

Boleh dikata, dunia yang terbentuk sekarang adalah dunia dimana yang terbentuk dari sebagian ingatan-ingatan kita di masa kecil. Tentu dari semua film pendekar; "hero" atau "superhero" serta penggambarannya berbeda satu sama lainnya. Buktinya saja, kita tidak menggunakan istilah "pahlawan" tetapi "pendekar" untuk menggambarkan lakon jagoan dalam karya fiksi. Tampaknya sudah ada ketetapan pada bahasa sebagai penghubung makna dalam menggambarkan lakin ini. Yaitu seorang tokoh yang menggunakan aksi fisik seperti melawan dengan berkelahi atau adu kekuatan. Pada gambaran genre tokasatsu (tokoh fiksi hero Jepang; sentai hero) berbeda dengan gambaran superhero (tokoh fiksi hero Amerika), dan itu sudah merasuk ke dalam diri kita tanpa bisa dilawan (dominasi) karena kitapun sewaktu kecil ingin menjadi mereka. Tontonan sebagai media propaganda, menyelundupkan makna dan hubungan logika, mampu menaruh nilai-nilai cara melihat realita (tuntunan) dan akhirnya menjadi dianut sebagai ideologi (tatanan) ketika sudah tumbuh dewasa.

Pandangan Pendekar Timur

Dari pemilihan istilah "pendekar", kita sudah ada gambaran seorang lakon jagoan yang mana sudah memuat nilai-nilai tertentu. Pengantar film oleh Usmar Ismail bisa menggambarkan ini dalam kutipannya:

Bagi saya filem yang bagus ialah filem yang ada berkelahinya, ada bandit, ada lakonnya dan ada si nona yang dibawa lari si bandit, lalu kemudian sesudah kejar-kejaran di atas kuda atau di atas mobil, kembali ke dalam pangkuan si lakon.

Jadi asumsi yang bisa digambarkan seorang lakon jagoan adalah dia pasti pasti berkelahi dengan bandit,  menyelamatkan seorang perempuan (dicintai / disukai), dalam proses kejar kejaran yang akhirnya perempuan itu kembali ke dalam pangkuan si jagoan. Gambaran itu dijelaskan dengan baik pada film-film dengan genre koboi, yang mana mengangkat konsep "damsel in distress" dimana menyelamatkan seorang perempuan menjadi tujuan si lakon jagoan. Istilah "jagoan" sama halnya seperti "pendekar" artinya dijagokan, dimana dia memiliki kemampuan yang lebih tinggi daripada para antagonis sehingga adegan yang diperlihatkan adalah kejar-kejaran. Beberapa waktu kemudian, ada konsep serapan yang juga diadopsi oleh para penulis film pendekar yakni kesaktian (superpower) dan juga ancaman terhadap dunia sehingga cakupannya menjadi lebih universal dibandingkan hal-hal yang sederhana saja. Hubungan makna dalam konsep seorang pendekar memang lebih ke kekuasaan dan juga kekuatan serta kemampuan-nya dalam memecahkan masalah

Pandangan Superhero Barat

Buku The hero with a Thousand Face, adalah buku yang ditulis oleh Joseph Campbell menunjukan bagaimana menganalisis cerita dari berbagai mitos Yunani dan juga berbagai sumber mitos dari budaya lain dengan menggunakan struktur. Buku itu menggunakan istilah archetype yang menjelaskan fase-fase seorang hero dalam menghadapi sebuah masalah dan itu bercermin dalam diri-nya.

Perhaps some of us have to go through dark and devious ways before we can find the river of peace or the highroad to the soul's destination.

Jika semua berpusat pada seorang itu maka pandangannya terlihat dari dia sendiri, tidaklah aneh bahwa seorang hero biasanya menyendiri, merenungkan nasibnya dan mendalami makna kehidupan dalam film-film superheo barat. Disini kita pun bisa melihat mengapa sebagian hero dalah orang-orang yang sedang memahami dirinya dan juga makna dirinya, dan itu terlihat dari film-film titular Conan the Barbarian, Batman, Indiana Jones dll. Makna hubungan superhero barat adalah sebuah psikologi karakter yang sedang mencati jati dirinya yang mana dia sendiri tidak pahami, dan dalam perjalanan itu dia memaknai dirinya berkuatan.


Baca juga:
Makna di Balik Film Pendekar.
Memahami keinginan dan kebutuhan dalam karakter cerita.
Elemen mendasar dalam sebuah cerita ; membahas karakter.

Pandangan Hero sebagai Jagoan Modern

Hubungan makna-makna ini beriring-iringan saling mengisi dalam perjalana waktu sehingga tidak bisa lagi dibedakan antara Hero ataupun Pendekar. Usmar Ismail, seorang tokoh film di Indonesia (Asia) diketahui menonton dan dipengaruhi oleh film barat. Orang-orang di Eropa juga dipengaruhi karya orang timur yakni Akiro Kurosawa (Yojimbo, 1961). Dari waktu kecil sampai besar, para pembuat dan penulis film terpapar dengan kedua ideologi barat-timur sehingga perbedaannya menjadi tipis. Akan tetapi memang ada beberapa konsep hubungan makna yang memiliki kecendrungan antara timur dan barat yang digambarkan dalam 2 dekade terakhir (2002-2022) yaitu semakin mendalami karakter yang mengalami penderitaan akibat keinginannya. Konsep Journey menjadi buzzword yang konvergen dan populer diantara para penulis dan juga pegiat media iklan maupun TV. Konsep dimana kita melihat pertumbuhan karakter yang dulu dan sekarang melalui perubahan demi mencapai keingannya, perubahan itu adalah proses yang begitu berat kadang karakternya sendiri lari dari permasalahan itu.

Pendekar yang dijadikan jagoan, atau superhero yang dijadikan karakter adalah lakon yang memiliki ruh karena kita kenang dan ingat. Ruh yang disimpan sebagai informasi oleh para penontonnya menjadi latar belakang ideologi sehingga wujud rasionalnya adalah tindakan yang disesuaikan zaman. Itulah mengapa bisa dikatakan bahwa ada zeitgeist (ruh zaman) berbeda-beda dan khas dalam menggambarkan karakter hero ini. Zaman ini, tahun 2022 adalah zaman menuju bintang-bintang (ad astra). Film sebelumnya yang mendorong kita untuk pergi ke bintang-bintang dan sudah bermunculan sejak lama (Star Wars, Star Trek dll) dan itupun menggunakan konsep Campbell, yakni Hero's Journey.

Prihal bintang inipun dapat dijelaskan dengan hubungan-hubungan makna seperti langit, alam semesta dan juga angkasa. Akan tetapi ada beberapa penulis yang mengartikan bahwa yang diatas itu terletak di "hati" dalam qalam yang bersembunyi pada tanda-tanda di sekitar kita. Di saat ini, dimana bangkitnya kembali dari pandemi, kecemasan dalam menghadapi resesi, dan juga ancaman nuklir yang sudah dalam batas ambang adalah pemaknaan yang sangat sarat dengan berbagai film hero. Multidisiplin dan juga multi-dimensi ini mengharuskan tidak hanya satu karakter yang muncul tetapi kolaborasi antar jagoan dan juga sebuah tantangan yang abstrak yang tidak diketahui karena tersimpan dalam rahasia esok hari.

Ke depan, para jagoan ini akan menghadapi masalah yang lebih nyata bukan sekadar masalah menyelamatkan perempuan atau memahami dirinya. Ke depan para jagoan ini akan mendalami hakikat mengapa kecerdesan buatan itu akan menjadi penting, tabir alam semesta akan semakin dekat dan juga kekuasaan itu akan semakin mengabur dalam sebuah dominasi yang tersembunyi diantara sistem dan struktur.

Posting Komentar

0 Komentar