Kenapa penulis gagal bercerita? Membahas permasalahan utama dalam menulis cerita

Obat yang paling mujarab untuk mengobati kecemasan penulis adalah pertanyaan; premis atau loglinenya apa ?

Pada kesempatan awal ide branding sebagai gambaran usaha yang dibangun untuk bidang menulis kreatif, kami memilih sebuah istilah "klinik skenario" karena kami pada waktu itu berfokus pada cara berkomunikasi untuk memberikan solusi untuk berbagai "pasien" (penulis). Mereka adalah penulis yg mengalami "kesakitan" karena ceritanya "tidak sehat". Bisa juga dikatakan bahwa ceritanya tidak tajam, tidak utuh, tidak sistematis dan bahkan "masuk angin" yaitu tidak menunjukan kreativitas yang bisa menarik perhatian atau merangsang minat pembaca / penonton.

Para "pasien" ini datang dengan berbagai bentuk permasalahan penulisan, dan seperti biasa mereka tidak memulai cerita dengan konsep film yang mudah dipahami. Mereka membawa suatu bentuk konsep yang dibuat tanpa melalui jenjang yang bertahap. Hal itulah yang menjadikan cerita mereka tidak memiliki prioritas, seolah semua ide konsepnya perlu disampaikan.

Baca juga:
10 kesalahan yang sering dilakukan penulis pemula
Kenapa penulis gagal menuliskan ide atau konsep cerita

"Obat" yang paling mujarab yang bisa menenangkan pikiran mereka adalah menjawab dengan penuh kesabaran. Lalu ditanyakan satu pertanyaan yang paling ampuh membuat pikiran mereka terdiam sejenak  "kenapa nggak dibuatkan premis nya dulu, atau logline nya?"

Dari situ implikasinya adalah harus ada sebuah ide yang bisa disampaikan dengan cara yang paling sederhana sehingga lawan bicaranya bisa mudah memahami apa maksud dari semua hal dalam cerita tersebut. Maka lahirlah kata kunci yang menjadi jargon dalam blog ini yang paling dicari di internet dalam hal penulisan film yaitu "premis sederhana".

Kebanyakan penulis datang tanpa premis, dan kemudian menyampaikan cerita dalam bentuk sinopsis yang tidak memenuhi kaedah tulisan yang paling mendasar. Sinopsis yg sangat rumit itupun ditambah lebih rumit dengan karakterisasi yang tidak berjaringan (character web). Penjelasan karakter pun biasanya tidak menjelaskan siapa karakter utamanya, atau siapa protagonis, ally ataupun love interest. Mereka bertanya-tanya untuk menyembuhkan diri mereka, pertanyaan ini disampaikan dalam keadaan mual dimana otak mereka mengalami pemikiran yang sangat padat.

Diantara "pasien" ini pada umumnya sopan, mereka haus pengetahuan dan juga ingin memperbaiki ceritanya pada waktu itu juga, mereka butuh kedamaian. Maka dalam keadaan itu kita perlu menjelaskan bahwa pola berfikir penulis itu harus berjenjang dan bertahap dimana setiap tahapnya adalah pengembangan dari tahap sebelumnya, dan diakhiri dengan tujuan yang jelas.

Kita memiliki otak yang sangat menarik, yang berjaringan dan setiap orang memiliki jaringan yang berbeda. Akan tetapi diluar otak itu kita melakukan sesuatu (tanpa disadari) dengan sebuah pola. Jaringan pikiran dalam otak tidak berpola, sedangkan tindakan-tindakan yang dilakukan sangat berpola, terorganisasi dan sistematis. Maka seorang penulis harus paham menempatkan berbagai ide pikiran nya yang abstrak (tidak berpola) itu sehingga menjadi kongkrit yang bisa dipahami oleh pembacanya melalui pola (struktur).

Sederhana nya, cerita seorang penulis adalah seseoang yang ingin menyampaikan ide-ide yang dengan baik dan sistematis akan tetapi perlu mengubah cara pandangnya. Seorang penulis yang cemas merasa perlu menceritakan semuanya, inilah salah satu gejala penulis "sakit "yaitu idenya "muntah" (idea vomit).

Bayangkan khalayak yang mendengar / menonton / melihat ide yang berantakan, mereka pun akan tertular penyakit pikiran. Tugas para "bidan" di klinik skenario adalah menata kembali jaringan otak para penulis agar pemikirannya bisa diwujukan secara berpola dan juga sistematis. Agar kelak idenya menjadi produk yang bisa meng-inspirasikan khalayak, agar tulisan nya memiliki bertujuan jelas dengan cara penyampaian yang sederhana.

Tentu para bidan ini harus bersabar dalam menghadapi para pasien ini, pasalnya mereka bisa saja enggan menelan "obat" yang ditawarkan kepada mereka. Sehingga kita harus memberikan perhatikan yang khusus kepada mereka, dengan hati-hati merasionalkan pikiran mereka melalui pertanyaan yang dinamis sehingga dalam waktu yang bersamaan mereka pula menyadari ketidak-sehatan mereka dalam berkarya.

Baca juga:
10 Hal yang Sering Terlewati Sebelum Menulis Skenario Film 
Tantangan ter - Berat Menulis

Akhirnya pun mereka diberikan gambaran cara hidup sehat dengan belajar melakukan tindakan-tindakan yang sesuai dengan ekspektasi (harapan) mereka melalui struktur. Gambaran ini tentu adalah pilihan dari aksi-reaksi tindakannya karena mereka menganggap karya mereka sudah ditulis dengan cara yang betul, padahal hal itu tidak tentu sepenuhnya benar. Jika mereka (penulis) memang memiliki karya yang baik dan "sehat" maka sebenarnya mereka sudah bisa memenuhi ekspektasi-nya.

Gambaran lain juga diberikan mengenai karya mereka yang mana pasti akan melalui tulis ulang atau revisi, sehingga mereka pun perlu menyadari bahwa mereka perlu belajar lagi. Jika para penulis ini memang memiliki sebuah ide konsep yang baik maka sebenarnya mudah disampaikan dan juga mudah diterima oleh pihak lain dan bahkan produser / sutradara (stakeholer).

Semua penulis yang baik memiliki pikiran yang dinamis
Semua pikiran yang dinamis adalah mampu belajar, sehingga ∴
Penulis yang baik adalah penulis yang bisa beradaptasi melalui belajar

Posting Komentar

0 Komentar