Catatan Pengajar | Peserta ajar baru tapi menggunakan ilmu lama


Setiap hari kita menghadapi hal-hal baru dalam mengajar, setiap hari adalah tantangan baru. Sekarang, dalam grup belajar menulis skenario sudah ada para penulis pemula yang sedang dilatih sebagai staff writer. Para staff writer sudah bisa memperhatikan para peserta ajar baru, memberkaskan tugas-tugas mereka sebagai asisten, dan juga pada sebuah kesempatan bisa juga membimbing para calon penulis baru. Menjalankan sebuah kelas menulis tentu tidak selalu berjalan mulus, karena ada saja peserta ajar yang datang bukan dalam kapasitas belajar namun untuk menganalisis hasil karya mereka. Inilah fenomena yang diluar dugaan dalam belajar menulis skenario.

Semua orang, siapapun terlepas dari golongan umur maupun tingkat pendidikan bisa menjadi penulis asalkan mau belajar.

Baca juga:
10 kesalahan yang sering dilakukan penulis pemula
Kenapa penulis gagal menuliskan ide atau konsep cerita ?
Kenapa penulis gagal dalam bercerita ? membahas permasalahan utama penulis

Sebenarnya fenomena ini bukanlah hal yg baru, karena sejak berdirinya konsep belajar online yang dibentuk oleh tim redaksi; ada saja seorang peserta ajar yang datang ingin belajar dengan menginginkan para tim pengajar menganalisis karyanya. Mereka datang dengan sebuah naskah yang sudah jadi, ingin dibacakan lalu ingin diberi masukan. Hal ini tidak bisa ditolak, karena kita adalah sebuah lembaga pendidikan yang profesional yang harus mampu memberikan solusi seperti analisis tetapi juga konsultasi dan juga mampu membimbing dalam rangka pembinaan kepenulisan profesional.

Sebagian besar para peserta baru ini menggunakan sebuah cara berfikir yang tidak sistematis dan juga tidak mengikuti standar. Jika saja kami menerima peserta ajar dengan cara befikir sistematis, maka tidak menjadi masalah besar. Akan tetapi, sebagian peserta ajar yang datang dengan kapasitas ini tidak bisa berfikir secara sistematis dimana mereka memiliki konsep yang tidak utuh. Keutuhan dari konsep ini adalah apa yang dikenal dalam blog dan kelas sebagai "ide cerita" atau "ide cerita film" yang terdiri atas 4 unsur; Judul, premis, logline dan tema. Jika saja seorang peserta ajar baru mampu mengemas idenya dalam salah satu unsur saja, sesuai dengan kaedah maka boleh saja mereka dibilang sudah sistematis. Akan tetapi, hampir peserta ajar yang baru tidak bisa mengungkapkan ide konsep yang mendasar ini dengan berbagai dalih dan pembenaran. Tidak sedikit juga dari mereka yang memanfaatkan prestasi mereka secara nasional dan juga rekanan kerja dengan berbagai pihak sebagai pembenaran. Apalagi mereka mengaku pernah bertemu dengan penulis senior dan bahkan pernah belajar dari mereka.

Beberapa artikel blog ini telah menetapkan azas keterbukaan dan juga pembuktian ilmiah (akuntabilitas) dalam sebuah kalimat bahwa ; Semua orang, siapapun terlepas dari golongan umur mapun tingkat pendidikan pendidikan bisa menjadi penulis asalkan mau belajar. Ini juga yang bisa dirasionalkan dalam writer's journey, bahwa apa yang diajarkan dalam kelas mencerminkan apa yang mereka pahami tentang cerita itu sendiri.

Para peserta ajar ini belum bisa berfikir sistematis karena mereka tidak tahu apa yang menjadi konsep tahapan penulisan. Karena tidak tidak tahu, maka mereka bisa melanggar ekspektasi (harapan) mereka sendiri. Mereka memiliki sebuah gambaran yang tidak sesuai realitas dalam penulisan film yakni "tahapan" atau "proses". mereka meloncat dan atau mengerjakan penulisan ini, sehingga tidak sistematis dan tidak pernah dikoreksi melalui rasionalisasi. Bisa dikatakan mereka mendapatkan informasi yang keliru dalam penulisan film sehingga mereka pada akhirnya mengalami hambatan dalam meniti karir dan bahkan kemuduran.

Jika ilmu-nya itu tidak bisa mengantarkan dia pada harapan (ekspektasinya) sesuai waktu yang digambarkan maka perlu dirinya untuk belajar kembali; un-learn dan re-learn.

Baca juga:
Contoh ide cerita film berserta revisinya
Contoh premis film Hollywood
Membuat tema film beserta contohnya

Sebuah konsep tentang pertumbuhan dan perkembangan melalui cara pandang pembangunan lngkungan kerja yang baik adalah kemampuan untuk menyesesuaikan diri dengan keadaan baru, adaptasi. Seorang penulis yang memiliki komitmen untuk belajar harus mau belajar, dan menanggalkan ilmu lamanya. ini lah konsep un-learn dan re-learn. Bagi seseorang yang menghadapi kebaruan, hal ini yakni beradaptasi itu akan sulit sehingga pada akhirnya ketahanan dia terhadap kebaruan menurun dan akhirnya tidak memiliki kualitas bersaing.

Mengadopsi dan beradaptasi ilmu ilmu baru ini tentu membutuhkan tekad yang bulat, tanpa itu mereka akan mengalami sebuah penolakan dan juga kehilangan kesabaran. Berikut adalah beberapa kasus dalam rentang waktu satu dekakde yang terbahas poin-poin yang menggambarkan peserta ilmu baru tetapi dengan ilmu lama;

  1. Mereka biasanya datang dengan sebuah naskah yang ingin dicarikan penggarap, untuk kemudian difilmkan atu ditayangkan. Padahal naskah mereka itu tidak memperhatikan format yang membedakan film pendek, TV ataupun layar lebar. Padahal naskah tersebut jugab belum ditulis melalui kaedah menulis yang baik.
  2. Mereka datang dengan meminta saran, akan tetapi menyebut nama-nama penulis layar lebar yang mereka ikuti dalam event-event penulisan untuk menunjukan bahwa karyanya sudah sesuai instruksi atau sesuai yang diajarkan oleh penulis layar lebar.
  3. Mereka mengalami kecemasan dengan membela karya mereka habis-habisan tanpa sistematika yang rasional dengan enggan menghindari standar penulis yang paling mendasar sekalipun, contohnya: tidak ada ide cerita film, memberikan logline yang tidak utuh, samasekali tidak mau dan enggan membuat konsep film melalui "ide cerita" yang terdiri premis dan logline. Bahkan Seluruh naskah yang diterima tidak menyertakan "ide cerita" sama sekali. 
  4. Memiliki kepentingan dengan cara pandang tersendiri, dengan terus menerus menaikan daya tawar mereka melalui pengakuan bahwa mereka telah diminta oleh produser dan atau pihak lainnnya yang sudah memiliki "permintaan" kerja yang harus segera dipenuhi.
  5. Memiliki pengetahuan yang minim tentang sumber cara menulis yang absah seperti buku-buku yang cetakannya sudah lama dan atau baru belajar dari internet.
  6. Merasa bahwa cara pandangnya itu sudah sesuai kaedah penulisan akan tetapi ketika ditanya menujukan rasionalitas yang tidak selaras dengan konsep-konsep cerita. contohnya; sebuah peristiwa penting, individu yang penting, isu masalah sosial yang penting, atau pentingnya saduran dari true story, atau menganggap pengalaman dirinya penting. Sehingga tidak ada keselarasan konsep dimana semua penting dan rasional, padahal dalam cerita harus ada prioritas karena keterbatasan durasi dan juga produksi.
  7. Cara pandang berkepentingan ini memuat berbagai macam ide yang tidak ada prioritasnya, karena mereka sedari awal tidak paham sistem dan struktur. Hal ini menyebabkan mereka memulai dari proses yang tidak sesuai tahapannya. contohnya; datang dengan sebuah konsep karakter, atau datang dengan sebuah konsep 3 cerita, atau datang dengan konsep karakter yang beragam, atau datang dengan konsep peristiwa. Padahal di awal percakapan, semua itu harus ada keutamaan yang merujuk pada ide atau konsep cerita. 
  8. Cara pandang bahwa dengan hanya menyampaikan secara verbal itu sebenarnya diperbolehkan tanpa tetapi tetap harus ada konsep yang sistematis dan juga tertulis dan terdokumentasi.
Tentu para peserta ajar ini mengalami sebuah kecemasan dan kekwahatiran sehingga bisa saja menjadi minder dan akhirnya tidak termotivasi untuk belajar kembali. Padahal sudah disebutkan bahwa dalam proses penulisan itu ada yang disebut feed-back (umpan balik), seorang penulis senior sekalipun bisa saja perlu melakukan revisi pada tulisannya. Mereka sebenarnya bisa juga belajar dengan mandiri, tetapi tentu harus dirasionalkan dengan hasil kerjanya, yakni menanjak dengan pasti dengan ilmu yang dimilikinya. Jika ilmu-nya itu tidak bisa mengantarkan dia pada harapan (ekspektasinya) sesuai waktu yang digambarkan maka perlu dirinya untuk belajar kembali; un-learn dan re-learn.

Posting Komentar

0 Komentar