Makna di Balik Film Pendekar

Di era modern sekalipun dimana informasi sudah membludak dan membanjiri ruang-ruang diskusi, kita manusia lazimnya selalu dalam upaya pencarian makna. Di era digital dimana bisa saja terjadi sebuah kejenuhan, kita manusia yang suka menonton film dengan berbagai latar belakang seperti sci-fi, horror dan juga intrik politik internasional sekalipun selalu membandingkan diri kita dalam tayangan-tayangan tersebut. Menempatkan diri kita dalam ruang interpretasi itu tentu membandingkan diri kita dengan akar kebangsaan dan juga indentitas diri kita. Mungkin tidak selalu melampaui batasan makna bangsa, tetapi ada saja diri kita yang mempertanyakan eksistensi tersebut dengan apa yang kita tonton pada film walaupun itu hanyalah sebuah simulasi kenyataan belaka. kita pun bertanya; kita, saya ini sebenarnya siapa ?

Seorang biasa yang ditempatkan pada keadaan tidak biasa lalu melakukan sesuatu yang luar biasa.

Film-film Indonesia mulai membentuk diri kita dengan ikon dan juga narasi dongeng yang pekat dengan budaya indonesia. Gilm Gatot Kaca (2022) misalkan mulai digadang-gadang sebagai film yang akan mengisi interpretasi akar kebangsaan dengan modernisme, inilah percakapan mengenai film pendekar Indonesia. Sifat-sifat kesatriaan, dan juga kekuatan serta aji mantra yang terkandung dalam jargon-jargon ini diharapkan dapat membuat penonton antusias. Selain itu juga muncul Jagad Bumi langit dengan Gundala (2019) dan Sri Asih (2022) yang mengandung kurang lebih ide cerita yang sama dengan menggunakan karakter pendekar atau pahlawan.

Tentu kita sudah mulai mengenal terlebih dulu dengan MCU (Marvel Cinematic Universe) dan DCU (DC Comics Universe) dengan film seri Avenger dan juga Justice League. Kita sering bertanya tanya, nilai apa yang kita dapatkan dari film drama, horror, romantis-komedi yang menunjukan diri sebagai identitas ? dan itu sebenarnya berakar dari premis yang sangat generik yaitu; Seorang biasa yang ditempatkan pada keadaan tidak biasa lalu melakukan sesuatu yang luar biasa. Identitas kita bukan pada nilai-nilai heroik, atau jargon kebangsaan dengan corak budaya nasional tetapi menjadikan eksisteni kita sebagai individu yang unik, yang luar biasa. Disitulah kita seolah mencoba mengisikan makna-makna film yang kita dapatkan, walaupun serupa (tidak lagi berbeda) tetapi menjadi luar biasa adalah tujuan yang sama.  

Aksi laga seorang pendekar akan mudah sekali mengamplifikasi ini dengan latar "ke-anehan" sebagai "ke-unikan" karena pada dasarnya kita yang aneh ini memang terlahirkan berbeda beda. Tidak hanya itu, domain yang menjadikan dia unik pun bisa saja muncul dalam bentuk kekuatan-kekuatan superhero. Paradoks pada konsepsi yang paling mudah diterima, untuk menjadi luar biasa seperti para pahlawan dan pendekar ini cukup menghubungkan diri kita dengan karakter utamanya. Sehingga sebelumnya dikatakan, walaupun serupa yakni ingin menjadi luar biasa (berbeda) adalah tujuan para penonton film pendekar.


Baca juga:

Membuat Karakter cerita yang hidup
Kenapa penulis gagal bercerita? Membahas permasalahan utama dalam menulis cerita

Film pendekar dengan genre laga ini pernah bermunculan di perfilman Indonesia, seperti Wiro Sableng yang diadaptasi dari novel laga dengan judul yang sama menjadi serial TV pada 90-an. Wiro Sableng 212 (2018) menjadi film yang ditayangkan di bioskop. Ada juga dongeng rakyat yang diangkat menjadi film, si Pitung (1970) dan kemudian sequel-nya Pembalasan si Pitung (1977). Serta yang paling femomenal dengan mengkolaborasikan film dan musik yaitu Satria Bergitar (1984) dibintangi oleh Rhoma Irama. 

Banyak juga film film lain seperti Pendekar Ksatria (1988) yang dibintangi oleh aktor kawakan laga aksi yaitu Barry Prima dan Advent Bangun. Aktor laga yang sama juga membintangi Jaka Sembung (1981) menceritakan sebuah fase perjuangan melawan Kolonial Belanda yang menjajah Indonesia. Film aksi laga yang memperlihatkan kepahlawanan dan pendekar tentu tidak akan lengkapb tanpa tokoh pendekar titular, yaitu; Si Buta dari Gua Hantu.

Kemampuan dan keadaan lah yang menjadikan kita luar biasa. Konsep-konsep ini merupakan cara bagaimana seorang penulis dan pencerita (storyteller) membangun sebuah perasaan dari para penonton untuk menjadi bagian dari kehebatan pendekar. Kita semua memiliki sebuah potensi untuk membuat momen-momen dalam hidup kita istimewa dengan memahami perbedaan sebagai corak dan warna untuk menjadi sama. Perbedaan itu tentu jika menemukan keadaan (momen) yang pas maka kita bisa menjadikan diri kita seorang punya cerita, bagi pendekar maupun penulis.

Posting Komentar

0 Komentar