Catatan Pengajar | Kenapa sebagian penulis gagal menulis premis sederhana, cerita atau bahkan meniti awal karirnya ?

Catatan pengajar ini adalah penutup dari kelas menulis skenario september 2022 yang akhirnya bisa meluluskan setidaknya tiga penulis. Hal ini menjadi sebuah tonggak awal dimana sebelumnya tidak ada satupun penulis yang lulus dari kelas yang dilakukan tim redaksi. Ini adalah sebuah analisa pribadi, seorang penulis intermediate yang juga masih berjuang untuk masuk ke dalam lingkungan kerja perfilman. Artikel ini mencoba membuka sebuah cakrawala, cara pandang yang bisa menjawab kenapa hanya segelintir penulis yang bisa melanjutkan diri dan kemudian menjadi sukses sebagai screenwriter ?

Pada tahun 2013 dibuatkan sebuah biopik presiden pertama Indonesia dengan judul dari nama tokoh yang sama yaitu Soekarno. Penulisnya adalah kawan. yang pada saat itu sudah kehilangan motivasi dan sejak itu tidak pernah lagi menulis film. Rumor mulai berkeliaran di kalangan penulis, mulai dari bayaran yang tidak sepadan, prilaku rekan kerja yang tidak manusiawi, sampai penolakan cinta akan tetapi rumor hanyalah bumbu-bumbu cerita karena pada akhirnya hanyalah "masalah premis" namun dari cara pandang kepenulisan. Seorang penulis adalah karakter dan pekerjaan dia adalah ceritanya, lalu pemahaman dia adalah premis. Tentu dia bisa memahami hal ini, karena setiap hari dia berhubungan dengan sebuah konsep bernama "karakter". Seorang karakter harus mau berubah demi tercapainya tujuan hidupnya. Bahkan ada sebuah artikel di blog ini yang menjelaskan bahwa hasrat untuk menggapai tujuan inilah yang menjadi inti dari kehidupan manusia, tanpanya maka sama saja dengan mati. Manusia menderita karena hasratnya, nafsunya, cita-citanya sehingga seseorang bisa menderita karena keinginannya apalagi akan lebih menderita jika keinginannya tidak realistis.

Penulis pemula sekalipun bisa memiliki sebuah keinginan yang tidak realistis, yakni sebuah khayalan yang bersifat tidak rasional maupun logis sehingga dari situlah awal kehancuran yang mematikan. Seorang penulis bisa menjadi rasional dan logis jika mampu memetakan keinginan ini dengan memecahkan masalah waktu dan tenaga untuk mewujudkan cita-citanya. Taruhlah kita ingin lulus ujian, maka kita setidaknya tahu tanggal, waktu, dan tempat ujian tersebut, lalu bagaimana ujiannya, berapa lama dan sebagainya. Kita sebagai manusia mencari cara untuk mendapatkan kepastian. Ketika kita membiarkan kepastian itu sebagai spekulasi, disinilah khayalan mulai mengambil alih alam pikiran kita, disinilah mulainya kekacauan mengambil alih kehidupan.

Menulis itu tidak sulit, cukup ambil pulpen dan kertas dan mulailah menulis. disitu kita bisa menulis apapun termasuk diri kita sebagai penulis yang sukses, yang bisa mendapatkan nafkah dan juga bisa mendapatkan kehidupan yang layak. Di akhir cerita, tergambarkan sebuah karakter dengan "happy ending" yaitu seorang penulis yang akhirnya bisa hidup damai dengan kekayaan berlimpah yang dia dapatkan dari menulis. Alih-alih memikirkan bagaimana menjadi penulis yang handal, banyak yang berkhayal Happy Ending-nya saja . Ketika dihadapkan dengan realita penulisan premis yang rumit, deadline yang harus dikejar, begadang berkali-kali untuk menyelesaikan tugas maka penulis mengalami masalah besar.

Enggan mengalami kesusahan dan kesulitan masalah untuk mencarikan solusi, penulis khayalan ini justru melarikan diri dengan terus banyak menulis khayalan yang dia anggap sebuah karya. Penulisan ini tentu bukan hasil logika cerita melainkan pelarian apa adanya dengan kemampuan yang terbatas. Soerang kawan ini, penulis film Soekarno bukanlah seorang penulis khayalan yang malas melainkan seorang profesional yang handal, lalu dimana letak kesalahan dia ?

Pada awal artikel ini saya mengatakan bahwa hilangnya motivasi bisa menyebabkan dia untuk melenceng dari komitmennya. Manusia akan melenceng dari ketetapan "arc" jika dia sudah tidak memiliki motivasi untuk berubah dan itu adalah belajar, dan esensi belajar adalah "berbuat kesalahan". Sebagian orang tua berkata, bahwa tidak perlu berbuat salah untuk menjadi benar. Para orang tua takut bahwa anaknya perlu menjadi begundal untuk menjadi orang baik, walaupun itu betul tetapi ada masalah lain yang perlu kita pahami. Seorang guru yang bijak sekalipun pasti memiliki kekhawatiran dan kecemasan, dan itu disampaikan saja dengan terbuka. Penulis pemula tidak menyadari bahwa attitude keterbukaan ini penting, sehingga tiap kali dia melakukan kesalahan tidak perlu malu atau menghilangkan diri untuk menutupi kesalahannya yang dia anggap buruk. Enggan mengakui kesalahan itu sama halnya menjauhi perubahan, dan disitulah letak kesalahan profesional yang handal sekalipun. Attitide terbuka ini salah satunya adalah menyampaikan apa adanya.

Lingkungan kerja perfilman yang mirip dengan pabrik ide, dijalankan sebagai mekanisme industri ini merupakan tempat kerja yang sangat pengap dengan kesempurnaan seolah kesalahan itu tidak ada, padahal seorang bisa survive disitu karena dia seorang yang terbuka dengan hal-hal baru. Sikap terbukanya membentuk perubahan yang membuatnya tumbuh kembang sebagai pencipta. Seorang profesional yang handal bisa saja tertutup dengan hal-hal ini dengan tidak merubah ekspektasinya. Pada akhir cerita, seorang yang tertutup adalah falling arc yakni karakter dengan penuh khayalan, tetapi disini kita yang sudah menyadari bisa membuka diri dan membiarkan orang lain masuk ke dalam hidup kita, menemukan hubungan itu menjadi perkawanan atau mungkin bisa menjadi pesahabatan. Mencari jalan untuk mau belajar lagi, mendengarkan dan juga menghargai pendapat orang orang dan juga yang paling penting untuk merunduk dan merendahkan hati.

Posting Komentar

0 Komentar