Stake dalam Cerita dan Storytelling


Beberapa kali ketika saya masih belajar menulis, sering kali disebut-sebut sebuah istilah yang membuat saya penasaran. Istilah itu diketahui bagian penting dalam penulisan naskah film yaitu Stake. Istilah ini menjadi sebuah kajian yang menarik mengingat bahwa stake memiliki banyak makna karena memiliki referensi yang berbeda-beda. Sebenarnya bagi mereka yang sudah memahami premis secara koheren sudah bisa memahami stake, namun dengan mendalami konsep ini lebih jauh ini maka premis yang dibuat akan semakin kuat. Dalam sebuah cerita, stake adalah apa yang dipertaruhkan dan itu tergambarkan pada konflik.

Stake adalah resiko, yang mana jika kita bahas dari asal-usulnya melalui disiplin ilmu bersumber pada pandangan positivis yakni rasionalitas angka yang dipertaruhkan. Jika berhasil maka mendapatkan angka, sebaliknya kehilangan angka (nilai) tersebut. Sebuah cerita memberikan gambaran spekulatif tentang bagaimana mendapatkan nilai tersebut melalui premis. Karakter dalam cerita adalah pihak yang mempertaruhkan nilai dalam mencapai keinginannya. Pada setiap unit cerita, semua pertaruhan ini berlaku di setiap bagian cerita. Pada umumnya pertanyaan yang sering digunakan adalah "Stake-nya apa?" atau "angka, nilai atau apa yang dipertaruhkan ?" dalam hal itu maka apapun yang dipertaruhkan biasanya yang diharapkan untuk meningkat. Seperti halnya dalam permainan dadu, angka yang dipertaruhkan akan berlipat ganda jika dimenangkan.

Stake dalam cerita digambarkan ketika katalis terjadi dalam bentuk visualisasi informasi pada bagian pertama. Stake ini bisa digambaran bagaimana ketika jika karakter mencapai atau tidak mencapai keinginannya. Sebagian penulis menunjukan hanya apa yang bisa dia dapatkan (keinginan), tetapi sering melupakan apa yang akan dia derita jika tidak dapat memenuhi keinginannya atau apa yang hendak dia capai. Stake baiknya juga termasuk visualisasi atau gambaran kemungkinan apa yang dia akan alami, jika tidak mencapai keinginannya yaitu kehilangan.

Baca juga:

Stake juga perlu ditingkatkan dalam cerita, yang disebut "raising the stake" yang dijelaskan ketika konflik, dalam bentuk dialog dan interaksi antara karakter yang digambarkan dalam bagian tengah cerita. Raising stake adalah gambaran ketika karakter bisa mengalami fatalitas (kematian) dalam mencapai kebutuhannya. Kematian adalah contoh ekstrim, tetapi biasanya juga kehilangan sesuatu, seperti keluarga, kepemilikan, karakter lain dsb. Bisa dikatakan bahwa raising the stake ini menekankan lagi bagi karakter untuk perlu menjalankan apapun yang menjadi rencana-nya.

contoh sederhananya; Seorang karakter mengikuti lomba untuk memenangkan sejumlah uang. Stake-nya adalah dia menemukan musuh yang jika dia kalah tidak hanya mengalami kekalahan, tetapi juga mengalami malu. Raising the stake diketahui bahwa salah satu keluarganya perlu juga uang untuk pengobatan. Sehingga dia sekarang menjadi lebih perlu untuk memenangkan uang melalui lomba tersebut.   

Stake terus-menerus digunakan dalam bentuk visualisasi yang mendorong karakter untuk maju dan berproses, menguras tenaga dan juga menekan karakter untuk berubah. Berikut adalah hal-hal yang bisa menguatkan stake dalam cerita. 
  1. Berikan gambaran jelas mengenai tujuan tentang apa yang dia perlu didapatkan.
  2. Berikan gambaran rentang waktu tertentu selama apa karakter perlu berusaha dalam proses, dalam bentuk deadline.  
  3. Berikan gambaran emosional apa yang bisa terjadi jika keinginannya tercapai dan juga jika tidak tercapai.
  4. Berikan gambaran sebab-akibat secara eksternal, yakni psikologi karakter utama dan juga karakter lain jika tujuannya tidak teercapai.
  5. Berikan gambaran apa yang bisa dikorbankan secara abstrak maupun konkrit pada karakter atau kelompok antagonis.
  6. Selaras apa yang dikorbankan, maka seorang karakter bisa saja kehilangan sesuatu pada tengah cerita. Hal ini dilakukan untuk menghindari "plot armor" dimana karakter seolah tidak mengalami penderitaan apapun.
  7. Setiap scene boleh digambarkan melalui stake ini, yakni apa yang dipertaruhkan karakter.
  8. Pada puncak konflik, stake akan mengarah pada dillema, yakni apapun yang diambil pasti ada yang harus dikorbankan. Dillema adalah konsep yang dikenal juga dengan istilah Buah Simalakama. Disinilah karakter terbentuk dengan menunjukan apa yang lebih penting untuk dirinya berubah.  
Jika kamu merasa artikel ini bermanfaat, atau ingin bertanya, sekedar menanggapi silahkan berkomentar di kolom yang ada dibawah ini. Tahun ini kita memulai seri penulisan artikel untuk mendorong penulis-penulis pemula untuk berkarya, ikuti postingan pertamanya disini Langkah pertama menulis Skenario Film. Semoga bermanfaat.

Posting Komentar

0 Komentar