Artikel ini adalah sebuah pengembangan dari proses pengajaran yang dilakukan oleh tim redaksi pada Kelas Menulis September 2022. Kelas ini mengajarkan beberapa peserta yang memiliki antusias untuk menjadi penulis skenario. Pengajaran ini tentu menjadi sebuah kajian yang menarik jika memperhatikan bagaimana peserta memiliki pola yang sama dalam membuat premis, terlepas dari preferensi kreatif premis tersebut. Umumnya pola-pola ini menunjukan adanya kesamaan dari mereka yang sedang belajar menulis, dan inilah yang dijadikan kesimpulan dalam artikel ini. Kesalahan-kesalahan ini tentu menjadi catatan bagi siapapun yang hendak menjadi penulis agar bisa dipelajari sebagai pembendaharaan pengalaman dalam menulis skenario film. Berikut adalah kesalahan-kesalahan penulis yang sering dilakukan dalam menulis premis dan logline.
- Tidak mengetahui bahwa penulisan skenario itu dimulai dengan menulis premis atau logline. Umumnya yang sering ditemui adalah, para penulis pemula sudah pernah menulis sinopsis dan bahkan sudah pernah sampai naskah. Sebagian besar penulis pemula tidak menyelesaikan naskah tersebut dan mungkin saja karena tidak menyertakan premis atau logline di awal proses untuk memulai penulisan skenario film, sehingga mereka mengalami hambatan, kehilangan arah dan writers block. Adapun yang sudah selesai menulis naskahnya tanpa premis atau logline menunjukan banyak plot hole dan juga peralihan karakter dan cerita yang dipaksakan berakhir. Menuliskan premis dan logline untuk memulai menulis naskah cerita memungkikan seorang penulis untuk menulis dengan lancar, menghindari revisi yang terlalu banyak, dan bisa mengakhiri cerita sesuai dengan tujuan awal serta karakterisasi dengan logika cerita yang tepat. Sering juga mereka memiliki semacam gambaran cerita tanpa premis, ini juga fatal karena akan memikirkan terlalu banyak alur / plot padahal tidak memiliki landasan yang baik.
- Belum memiliki metode mencari inspirasi untuk bisa menyediakan premis-premis sesuai tepat waktu (deadline). Para proses belajar menulis, menuntut para peserta-nya untuk menyerahkan minimal 3 premis setiap harinya untuk dibahas namun pada kenyataannya ada peserta yang belum bisa menyerahkan premis-premis ini dengan alasan bahwa mereka sulit mencari bahan / materi cerita. Hal ini dikarenakan jarangnya membaca dan atau memahami sebuah fenomena secara mendalam dengan hanya cara pandang yang terlalu naif dan sederhana. Sumber inspirasi itu tidak hanya didapatkan tetapi juga ditangkap, dicatat dan diformulasikan. Penulis pemula biasanya rajin membaca berita tetapi tidak bisa mengolahnya menjadi cerita. Penulis pemula mungkin saja bisa mengolahnya menjadi cerita tetapi ide-ide itu tidak pernah disimpan. Penulis pemula, selain memiliki catatan / buku yang berisikan ide dan gagasannya bisa membaca kembali ide-ide mereka dan memformulasikan ide itu menjadi logline, tema dan juga mengkajinya.
- Penulis pemula belum punya gambaran task managing yang baik. Penulisan skenario itu adalah profesi yang membutuhkan komitmen sehingga diperlukan cara mengelola dengan baik yang melibatkan manajemen waktu untuk bisa mengalokasikan waktu dan tenaga sesuai dengan kapasitas masing-masing. Seorang penulis pemula, harus memiliki endurance yakni daya tahan kepenulisan. Seorang penulis bisa saja dimintakan 20 premis perhari selama 2 pekan, tentu hal itu menjadi sebuah marathon berfikir yang menguras semua sel di otak dan bisa saja mengalami burn-out yang betul-betul melelahkan. Membuat 20 premis per hari pun didefinisikan 24 jam, padahal ini keliru karena dalam sehari seseorang perlu istirahat, membersihkan diri, olah raga, melakukan perjalanan dan menghabiskan waktu bersama keluarga yang sebenarnya mereka harus bisa bekerja menulis hanya dalam 8 jam saja. Penulis banyak menghabiskan waktu hingga larut malam dan bahkan sampai dini hari untuk mengerjakan tugasnya.
- Penulis pemula merasa bahwa premis dan logline itu sebagai proses yang setara tahapannya dengan penulisan lainnya. Banyak pribahasa yang mengungkap proses awal yang sangat sulit seperti: "getting out of your comfort zone is the hardest" artinya keluar dari zona aman itu adalah sebuah hal yang paling sulit dilakukan. Ada juga pemahaman bahwa energi terbesar yang digunakan itu pada awal awal, seperti ketika mesin atau komputer menyala. Penulis yang sudah berpengalaman mengatakan bahwa premis dan logline akan menggunakann setidaknya 50% dari waktu penulisan secara utuh. Sehingga jika ada 10 hari untuk menuliskan dari ide menjadi naskah, maka 5 harinya digunakan untuk menuliskan premis dan logline-nya saja, sisanya dibagi bagi untuk penulisan sinopsis, treatmen dan naskah itu sendiri.
- Penggunaan bahasa yang kurang luwes. Kesalahan-kesalahan ini termasuk; menuliskan premis dengan 3 kalimat atau lebih, tidak menguasai susunan kaedah SPOK, kurangnya pembendaharaan kosakata dan kemudian diksi, penulisan kata yang baku, dan salah ketik.
- Tidak membaca ulang premisnya. Proses penulisan itu seperti proses dalam mematung, yaitu dilakukan secara bertahap berkali kali dengan cara refining yaitu membentuk dengan cara mengurangi. Penulis pemula jarang membaca kembali premis-nya sehingga kadang unsur premis nya; seperti keinginan atau konflik tidak tertuliskan dengan jelas. Penulis pemula tahu dan paham keinginan karakternya tetapi lupa ditulis atau tidak jelas karena terlalu memikirkan karakterisasi yang terlalu panjang. Keinginan karakter, umumnya hanya perlu ditanyakan kembali tetapi unsur konflik dalam premis itu sering kali tidak diketahui sehingga penulis pemula perlu memikirkan kembali premisnya melalui refining dan membaca kembali premisnya.
- Penulis pemula tidak menuliskan unsur konflik dalam premis karena tidak paham sebenarnya apa itu konflik. Seorang penulis dalam kesehariannya tidak begitu paham bahwa sebuah istilah itu bisa memiliki makna yang berbeda beda tergantung dimana itu disebutkan, inilah konteks. Konflik di dunia nyata diasumsikan sebagai pertikaian dua pihak, sedangkan konflik dalam premis itu tidak hanya dalam bentuk pertikaian, rintangan dan tantangan akan tetapi juga meliputi "permasalahan" (timpangnya keadaan ideal (abstrak) dan praktek (konkrit) dan tidak adanya daya (kemampuan) pada karakter.
- Penulis pemula sering menuliskan kembali karakter pada logline. Sebenarnya pada logline itu tidak berbicara karakter tetapi cara pandang dunia atau universe cerita itu, sehingga kita bisa melihat cerita melalui cara pandang yang lebih luas. Logline menggunakan "what if?" dengan gaya penulisan yang imajinatif dan juga kreatif sehingga bisa membuat pembaca penasaran, inilah mengapa logline cocok untuk dijadikan pitch kepada sutradara dan produser. Logline dituntut untuk memberikan gambaran dengan cara berfikir dengan lebih besar atau "Think Big!!" sehingga logline adalah high-concept idea, dilihat dari ketinggian agar bisa melihat dunia cerita yang lebih luas.
- Penulis pemula pasif dan tidak banyak berkomentar, tidak bertanya atau berdialog. Penulis itu adalah seorang yang mampu mengolah segala jenis ide menjadi cerita. Siapapun karakternya, apapun keiginannya, serumit apapun konfliknya, segala jenis genre-nya, bagaimanapun keadaan menulisnya dan siapapun rekan kerja-nya. Seorang penulis yang handal bisa mengatasi dan menghadapinya semua keadaan dan kondisi tersebut. Sebagian penulis pemula masih belum paham bahwa seorang penulis itu harus diawali dengan kemampuan menulis secara umum apapun ceritanya, genre dan keadaan menulisnya. Penulis bisa memulai memahami bahwa dia akan bekerja secara kelompok dengan penulis lain, sutradara atau produser dimana keadaannya dinamis sehingga perlu kecekatan dan juga ketangkasan.
- Kesalahan yang paling sering ditemui dalam proses pembelajaran menulis skenario adalah kemampuan komunikasinya yang rendah. Seorang penulis pemul merasa dan beranggapan bahwa proses atau menjadi penulis itu adalah sebuah dunia kesendiriannya, pada kenyataanya mereka berhubungan dengan editor, penulis senior, mereka melakukan pertemuan dalam bentuk meeting atau rapat dengan produser dan sutradara, mereka harus mampu memaparkan (melakukan presentasi) di depan rekan rekannya. Penulis pemula merasa kesendiriannya itu adalah kondisi untuk asyik berkarya dan ini sudah tidak lagi berlaku di era modern dengan teknologi yang canggih dalam mengolah informasi.
Jika kamu merasa artikel ini bermanfaat, atau ingin bertanya, sekedar menanggapi silahkan berkomentar di kolom yang ada dibawah ini.
Baca juga :
Tahun ini kita memulai seri penulisan artikel untuk mendorong penulis-penulis pemula untuk berkarya, ikuti postingan pertamanya disini Langkah pertama menulis Skenario Film. Semoga bermanfaat.
0 Komentar