Ada sebuah gejala yang kita bisa rasakan ketika sudah keseringan menonton film dan salah satunya adalah kita sudah bisa melihat film sebagai struktur, dimana kita sudah bisa melihat pola.
Ada sebuah gejala yang kita bisa rasakan ketika sudah keseringan menonton film dan salah satunya adalah kita sudah bisa melihat film sebagai struktur, dimana kita sudah bisa melihat pola. Salah satu gambaran awal seseorang bila sudah memahami film akibat kebanyakan nonton film adalah dia sudah bisa melihat pola yang berulang ulang, dan pola itu serupa dalam film lain. Pada genre tertentu dia bahkan sudah bisa menebak alur dan juga adegan apa yang akan terjadi, dia bahkan sudah merasakan ada sandiwara yang terjadi dalam film. Seseorang yang sudah banyak menonton film kemudian memiliki ekspekatsi yang tinggi, karena menurut dia film itu adalah sensasi yang harus dipenuhi setiap menonton film baru.
Karena jika sudah bisa menebak alur maka tidak ada lagi unsur kejutan baginya. Film menjadi membosankan.
Pola yang berulang ulang, kesamaan dalam dialog, karakter dan adegan, belum lagi alur laur yang mudah ditebak dan bahkan bisa mengakategorikan apa saja yang mungkin bisa terjadi dalam bentuk pilihan. Jika terjadi itu maka diikuti dengan itu. Jika terjadi ini maka bisa jadi diikuti dengan ini no. 1 atau ini no.2. Bagi dia semuanya tertata sesuai dengan apa yang dia pahami, lalu keajaiban cerita mulai tergerus satu persatu karena dia menantikan sebuah kejutan, sebuah keterbaruan melainkan remeh temeh yang berulang ulang seperti alam ghaib yang menekan. Seseorang yang sudah keseringan menonton film merasa terpenjara dalam sebuah limbo yang terjadi berulang ulang.
Kejadian yang sama itu membuat dia jengah, dan akhirnya menimbulkan kekecewaan dan kekesalan yang mendalam. Apalagi tipuan tipuan murahan dalam bentuk gimmick untuk sengaja dilakukan demi bisa menjual karya atau remeh temeh untuk menjadi terkenal. Dia selalu mencari cari apa yang menarik dan lebih menarik lagi. Karena jika sudah bisa menebak alur maka tidak ada lagi unsur kejutan baginya. Film menjadi membosankan.
Kekesalan yang kekecewaan itu menjadi dendam, muncul sebuah wacana "bagaimana jika saya menulis saja?" tetapi karena masih tidak tahu harus memulai dari mana dia hanya bisa menerima keadaan dan memalingkan diri dari rutinitas menonton.
Jika anda telah mengalami hal hal yang disebutkan diatas, dan kemudian membangun rasa percaya diri yang juga menjawab pertanyaan sekaligus tantangan untuk menulis maka kita memang harus memulai dari hal - hal yang kecil, yaitu menonton film. Tarantino menghabiskan mungkin lebih dari setengah hidupnya sebelum dia akhirnya memutuskan untuk menulis dan membuat film. Karya karyanya saja, memerlukan waktu tahunan untuk kemudian bisa dijadikan film.
Hal - hal seperti ini membutuhkan rasa penasaran yang tinggi, dan kemudian dia akan mengembangkan cara tersendiri untuk bisa menjawab itu. Ada yang lama sambil menikmati proses, ada yang cepat dengan arahan yang pasti. Akan tetapi ada juga, yang berusaha sendiri secara diam diam karena malu dan mengalami kesulitan yang luar biasa. Tentu apapun itu adalah sebuah pilihan pilihan dari struktur, karena kehidupan itu bisa diilmiahkan dan ada logikanya. Bagaimana bsia menuliskan karya yang baik itu logika yang lain.
sekarang kita menanggapi satu logika yang penting saja, satu logika yang menjadi pola mendasar dalam setiap penulis skenario film yaitu adalah
Jika sering menonton film yang baik, maka bisa juga menjadi Penulis yang baik
Semoga menjadi inspirasi. Bagi kalian yang punya pendapat lain, atau tidak setujua karena ada alasan yang kurang tepat dalam membaca artikel ini, silahkan berkomentar dibawah.
0 Komentar