Udah jadi satu cerita, terus gimana ?

Dalam beberapa artikel sebelumnya yang mana mendorong para calon penulis untuk segera menyelesaikan pekerjaan-nya, pada akhirnya kita mencapai sebuah tahap dimana kita sekarang perlu memikirkan langkah selanjutnya. Mampu menggambarkan perencanaan adalah dimana kita merasakan pertumbuhan dan kedewasaan dalam menulis. Hal ini bisa dilakukan dengan mengambil tindakan satu demi satu, sebuah langkah pasti untuk mencapai keberhasilan. Akan tetapi banyak penulis yang merasa bahwa tindakan ini sudah selesai, padahal langkah - langkah ini setidaknya harus melalui sebuah siklus yang berulang ulang dan bertambah setiap kalinya (eksponensial).

Salah satu contoh dimana langkah atau tindakan itu terbentuk, adalah bagaimana kita menghadapi kondisi yang berbeda beda. Saya ingat, pernah membuka laptop karena diminta revisi oleh seorang head writer pada saat itu juga, bahkan ketika itu berada di sebuah halte bus dibawah hujan lebat. Saya ingat revisi tesebut dilakukan dengan lapang dada, menikmati kopi pinggiran yang diseduh pada gelas plastik. Pada saat saya belajar menulis, seorang mentor dengan sengaja membuat saya menuliskan tugas ditengah kelompok sambil mereka mengobrol dengan seru dan dalam keadaan itu ingin nimbrung namun harus ditunda karena dikondisikan menulis terus. Hal hal seperti ini terjadi dalam kondisi yang sangat beragam.

Memenuhi satu siklus itu baru satu tahapan saja, kita harus bisa menekuni kepenulisan dengan senang hati dengan membentuk prilaku - prilaku yang kelak bisa membangun pribadi seorang penulis yang handal. Hal ini penting untuk dicapai mengingat banyak kondisi yang tidak bisa diprediksi. Kalau sudah mendapatkan satu cerita, maka kita bisa mengeksplorasi pilihan - pilihan lain untuk memperdalam kemampuan menulis. Hal ini bisa dilakukan dengan cara cara berikut;

Mengadakan sayembara penulisan dengan rekan atau temen - temen dalam komunitas. Hal ini biasa dilakukan dengan komitmen, dan itu tidak memerlukan sesuatu yang sulit namun dengan hanya cukup menuliskan satu cerita dalam seminggu. Acara semacam ini dilakukan untuk bersenang senang saja, bukan untuk bersaing. Acara acara seperti ini bisa dilakukan dengan berbagai bentuk tantangan, dan tantangan itu harus menyenangkan.

Menentukan target profesi kepenulisan dengan melamar sebagai penulis dalam rangka magang. Datang kerja dalam bentuk magang ini adalah salah satu cara belajar dengan baik, namun perlu dipahami bahwa magang itu memang harus diimbangi dengan "pembelajaran". Sebuah kesepakatan magang harus disebutkan diawal perjanjian kerja dengan badan usaha yang hendak kita jajaki. Menegaskan bahwa disitu kamu bertujuan untuk belajar. Ketentuan magang itu adalah 5 jam kerja sehari namun tetap dikasihkan uang makan dan ongkos. Lama magang biasanya 2-3 bulan saja, yang mana bisa dilanjutrkan secara formal menjadi karyawan tetap di tempat magang tersebut.

Mencoba mengeksplorasi kesusastraan dengan membaca berbagai jenis novel dan juga bacaan lain. Ini sangatlah penting untuk dicatat, untuk bisa menulis haruslah diawali dengan membaca. Seorang penulis dalam tahap ini sudah menyelesaikan sebuah ide cerita, menyadari bahwa banyak nulis itu karena banyak baca. Menambah referensi untuk bisa menambah khazanah ilmu dan juga wawasan. Kita bisa mendalami berbagai bentuk karya sastra yang terkenal dan juga yang perlu diketahui, dengan perbandingan cara atau gaya penulisan yang berbeda beda.

Di era modern, kita semakin meluas dengan mempersempit bahasan. Eksplorasi ini bisa mengkrucutkan kita pada sebuah kemampuan tertentu, bahwa kita memiliki keunikan. Ini memang perlu kesabaran, dan ini bisa memakan seumur hidup yakni menemukan hakikat dari kepenulisan secara pribadi, menciptakan nische dan juga spesialisasi dalam menulis. Spesialisasi ini antara lain seperti kehandalan dalam genre film tertentu, dalam prihal visualisasi, atau memang pada bidang penulisan media tertentu seperti copywriter, film pendek atau lainnya.

Listening. Selain kesabaran, seorang penulis memang harus lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, dan lebih banyak - banyak lagi menulis. Seorang penulis harus mampu membuktikan kemampuannya dengan menulis, bukan barargumentasi ataupun membela diri dengan hanya berbicara. Dengan menerima dan mencatat banyak hal, kita bisa belajar lebih banyak menambah wawasan dibandingkan menantang atau membantah orang lain lalu kemudian tidak belajar apapun. 

Tujuan seorang penulis adalah menulis, dan itu adalah pengkaryaan yang membentuk eksistensi dirinya. Itulah yang membedakan diri kita dengan profesi lain, kita menggunakan media teks dengan merangkum kata - kata, berbahasa yang baik. Kita bisa mengeksplorasi kemampuan ini dengan mau untuk berkembang terus, sampai akhir hayat tumbuh dan terus menembus batasan.

Semoga bermanfaat.

Posting Komentar

0 Komentar