Tujuan Penulis Menulis Cerita

Pada umumnya penulis adalah manusia yang memiliki pesan yang mana bertujuan disampaikan. Prihal kenapa perlu disampaikan adalah untuk menandakan dia berada, kebanyakan penulis ingin menunjukan eksistensinya. Akan tetapi pesan itu memang bervariasi dan setiap penulis memiliki kemampuan yang berbeda - beda. Penulis memiliki indera, yang mana dia gunakan untuk menyerap semua jenis informasi yang dia miliki. Sejak kecil, usia dini dia menggunakan informasi itu untuk membuat semuanya menjadi "masuk akal" dalam istilahnya "making sense". Salah satu proses tanpa perlu menggunakan akal namun menjadi satu dengan pikiran adalah meniru. Prilaku tersebut terjadi karena sebuah prilaku yang bertahap dari hal yang kecil dan sederhana karena pada saat itu terjadi, kita menggunakan otak kecil kita yang mana mengatur insting dan naluri. Inilah yang disebut dengan intuisi, kita kadang bertindak tanpa berfikir. Kemudian, kita berkembang dari prilaku meniru dengan menghubungkannya dengan emosi atau perasaan. Hal itu juga masih berada di otak, hanya saja di bagian menengah. Paling terakhir, adalah berfikir dimana pengolahan informasi secara logis, relevan dan rasional terjadi.

Proses berfikir tadi mengikuti sebuah teori yang dikenal dengan konsep Triune Brain, bahwa otak kita tercipta dari 3 lapis yakni otak kecil, otak tengah (emosi) dan otak luar (akal). Seorang penulis tentu memiliki otak yang sehat, yang mana sehat itu adalah telah menggunakan ketiga bagian otaknya dengan seimbang. Selain tiga lapis tersebut, otak kanan dan kirinya juga bekerja dengan seimbang yang mengatur cara berfikir holistik (kanan) dan cara berfikir skuensial (kiri).

Seorang penulis memiliki kemampuan untuk membuat semua hal menjadi "masuk akal" karena dia bisa memaknai semua hal lebih banyak (daripada umumnya), dan pandai dalam menempatkan makna - makna itu. Selain bisa menempatkan, seorang penulis tahu ada makna yang tidak pada tempatnya, tahu bahwa ada makna yang hilang, tahu ada makna yang disalah artikan. Seorang penulis bahkan tahu, bahwa ada sebuah makna yang digunakan merubah realita. Makna makna itu digunakan untuk melihat dunia, makna menempatkan kita dalam cara pandang tertentu.

Tentu seorang penulis sadar akan realita yang betul dan ingin orang lain juga melihat dengan cara yang betul, melainkan cara pandang yang salah. Imajinasi seorang penulis merupakan sebuah cara dia "menawarkan" realita baru, namun hakikatnya adalah menunjukan keberadaan penulis tersebut. Penulis sejati rela menukarkan keberadaanya untuk memberikan kesadaran kepada pembaca untuk melihat realita yang sebenarnya.

Baca Juga;
Bagaimana menjadi penulis film tanpa latar belakang pendidikan film ?
Masih bingung dalam langkah langkah menulis ?
Narasi adalah perjalanan

Proses kerelaan ini mungkin saja tidak akan terjadi, kalau penulis menikmati kepiawaian atas keberadaan itu. Dia akan menikmati dunia yang dia ciptakan, yang mana orang lain juga ikut terhisap ke dalam dunia itu.

Semua penulis ingin dunia ini berubah, dan dia menggunakan pena untuk melakukan hal itu. Sekarang, penulis menggunakan kekuatan prosesor dan internet untuk menyampaikan pesan - pesan ini. Akan tetapi di era yang serba komplit ini, kita justru kebanjiran pesan. Dan kadang untuk merubah dunia memerlukan siasat, dan disitulah penulis menggunakan "cerita" untuk merubah cara pikir dan cara pandang pembaca.

Manusia menyukai cerita, seolah menghubungkan dia dan karakternya. Manusia adalah makhluk sosial yang mencari hubungan hubungan itu terutama dalam cerita, karena cerita itu menceritakan dirinya. Kita belajar sejatinya diri kita dari manusia lain melalui cerita. Tokoh cerita adalah seorang yang selalu berubah dan menjadi pahlawan (hero) di akhir cerita.

Makna yang baru tentu bisa saja ditolak oleh para pembaca, maka makna itu disisipkan dalam tema, dan juga perubahan karakter seperti dalam premis dan juga logline. Makna makna sengaja disisipkan agar mudah diterima dan dengan halus (seamless) dan lembut (subtle), tanpa perlu diketahui oleh pembaca. Kemampuan penulis dalam merekat sebuah kata dalam kalimat adalah bagaimana dia menempatkan makna itu sesuai pada tempatnya sehingga, dunia bisa menempatkan diri sesuai dengan kebenaran. 

Posting Komentar

0 Komentar