Cerita ini berkaitan dengan masalah penulisan perubahan dan pengubahan dengan menggunakan analogi character arc. Baca sampai akhir untuk mendapatkan jawabannya.
Sepertinya sudah 8 tahun lalu kejadian ini terjadi. mungkin lebih dari itu tetapi hal itu adalah sebuah kejadian yang seperti baru saja terjadi. Saya ingat, saya suka mengadakan "Kelas Rabu" dimana saya bisa bertemu dengan orang - orang dari berbagai tempat. Saya bahkan memberikan apresiasi yang luar biasa kepada mereka yang mau datang menemui saya karena jarak yang mereka tempuh itu luar biasa jauh.
Ada seorang murid, yang mana sudah lama ngobrol lewat sosial media yang akhir berjanjian untuk bertemu. Dia sebenarnya memiliki sesuatu yang terganjal dalam pikirannya dan perlu menemui saya, namun dia sepertinya tidak ingin bicara lewat chat melainkan langsung menemui saya. Ketika ketemu, saya terkejut bahwa dia perlu menggunakan jasa pesawat terbang untuk menemui saya. Menurut dia, saya cukup sabar menghadapi dirinya yang agak "lemot" sekaligus menggebu gebu tentang idenya.
Untuk mempelajari menuangkan ide dalam bentuk premis bisa membaca artikel Premis sederhana. Ide juga bisa dibuat dalam bentuk logline, untuk memahami perbedaan antara logline dan premis membaca artikel Logline v.s. Premis.
Nama murid ini adalah Patricia, dia biasa dipanggil Icha. Ketika itu, Icha berusia 20 tahun, dan memutuskan untuk tidak meneruskan kuliahnya di teknik industri untuk memulai jenjang pendidikan baru di kedokteran gigi. Sambil menekuni dunia dentistry, dia juga terinspirasi untuk menulis. Seperti biasa saya menyarankan untuk bertemu di perpustakaan besar di salah satu universitas negeri di Depok. Perpustakaan itu memiliki gedung yang megah dan juga pemandangan yang sangat menyejukan.
Antusiasme-nya terlihat dari bagaimana dia sudah datang lebih awal jam 10, dan sudah duduk di sebuah pelataran dekat danau yang bisa dilihat dari perpustakaan tersebut. Kami mengobrol sekitar 45 menit tentang film, novel dan kegiatan kita sehari hari... sampai akhirnya saya memutuskan untuk membicarakan pertanyaan besar (yang mana saya sudah nantikan). Dia sebenarnya agak malu, dan juga agak khawatir untuk menyampaikan. Saya pun berjanji untuk mendengarkan dulu pertanyaan dia, dan berusaha memahami apa yang menjadi kekhawatirannya.
Dia bertanya, selama ini ketika diajarkan dia berkata bahwa dia terus menerus diberikan sebuah ide tentang perubahan, yang mana menurut dia adalah sebuah konsep yang tidak sinkron dan juga sulit dipahami. Dia berkata;
"Kenapa sih, dalam cerita itu perubahan itu penting seolah olah kita juga perlu berubah?" saya sepertinya menatap dia cukup lama sampai dia merasa tatapan saya kosong seolah saya tidak paham pertanyaan itu. Kemudian dia menambahkan.
"eehhh... atau gini pak, bisa ngga dalam cerita itu ngga ada perubaham ?"
Pada waktu itu, saya sebagai guru mencoba memahami kondisi dia. dan saya pun tidak perlu menanggapi nya segera. Akan tetapi saya tahu, saya tidak boleh menjawab itu dengan pertanyaan. Bola mata saya terputar kesana kemari, dan gestur badan saya melipat tangan menunjukan saya berfikir dalam. Jari jemari saya bergetar mengetuk lengan yang menempel.
"Sebenarnya ada banyak alasan kenapa perubahan itu penting, tapi ini bisa menarik kalau kamu dulu yang kasih alasan kalau perubahan itu ngga penting" dia justru seperti-nya kecewa seperti anak kecil, tertawa dan juga mengeluh dengan mengeram kecil, tapi panjang.
"iyah kata ibu aku, kamu ngga perlu berubah karena itu adalah diri kamu yang sebenarnya, apalagi berubah demi orang lain, itu ngga ada manfaatnya" setelah itu dia berceloteh tentang banyak hal, mencoba membuktikan bahwa argumen dia logis. Dia ngomong panjang lebar tidak berhenti setidaknya dalam 10 menit kedepan.
Saya mencoba menjadi guru yang baik, dengan mendengarkan, tidak menghakimi dan sepakat bahwa dia juga betul. Bahwa memang ada kenyataan dimana seseorang bisa jadi tidak perlu berubah dan menjadi pahlawan, dia pun kembali berargumentasi. Dia melibatkakan argumen seperti, stagnasi modernitas, pola dalam sains (strukturasi), kepastian (certainty) yang menjadi sumber positivisme dan masih banyak lagi. Saya pun hanya mendengarkan berbagai argumen yang dia sampaikan dalam fase yang cepat dan berbobot itu. Lalu dia terdiam... saya mencoba menanggapi;
"ya itu adalah cerita kamu, bahwa pahlawan ngga perlu berubah" dia menanggapinya dengan dingin, dan dia mengalihkan padangannya mencoba memahami. Lalu dia melirik kembali dan siap siap mengeluarkan kata kata.
Saya dengan muka yang percaya diri, siap menyambut komentar itu, apapun itu. Saya mengerutkan dahi dengan serius. Tetapi karena lama menunggu, caruk muka ku berubah menjadi senyuman yang mungkin membuat dia jengkel. Saya tahu pada saat itu juga bahwa Patricia adalah seorang perempuan yang dewasa walau terpaut usia yang muda, karena dia cekikikan sambil kesal. Icha tahu dan paham jika saya menangkap kesan yang menunjukan bahwa dia terlalu lama berfikir.
Untuk bisa mendalami cara menyampaikan ide cerita film bisa mendalaminya pada artikel ide cerita film.
Hanya orang dengan piskologis yang matang dan intelegensi yang tinggi mampu mendeteksi sebenarnya saya itu sinis walaupun sebenarnya telah menyampaikan kesepatakan. Saya boleh berasumsi bahwa kekesalannya itu menunjukan bahwa dia pun menyadari bahwa dunia ini berubah, walaupun dia mengidamkan sebuah dunia yang berdiam dimana dia bisa menikmati kebahagiaan tanpa harus ada perubahan. Gejolak pikirannya itu dia coba alihkan dengan dia berhenti dan menawarkan untuk dibelikan kopi dari kedai yang kebetulan ada disitu. Kita berjalan ke kedai itu, saya ingat saya memesan Cinnamin Dolce Latte, berukuran gelas venti, dia bergurau;
"Buat bapak yang badannya besar" sambil cekikikan. Lalu kami duduk di samping kedai kopi itu sambil meneruskan pembicaran kita. Kita duduk sambil menikmati kopi, lalu saya berkomentar untuk memecah suasana yang dingin itu.
"Menjadi diri sendiri baik, dan itu orisinil, mungkin dunia perlu memahami kita" saya mengatakan itu, akan tetapi lalu Patricia tertawa terbahak bahak
"mana ada pak? siapa kita? masa dunia harus mengikuti keinginan kita?" dia sambil menyindir sinisme yang halus itu
"tapi kamu mau kan menulis itu kan, menjadi diri sendiri?" pertanyaan saya langsung dijawab tanpa berfikir lama
"mau banget, karena mendengarkan kata kata orang lain itu percuma" dia menegaskan kembali pandangan dia.
"Kita ngga perlu setuju apa yang orang lain katakan" dia menambah sambil menatap jauh ke danau yang luas
"Kadang apa yang orang katakan itu cuman berlaku buat mereka aja, tetapi ngga berlaku buat kita" Dia menutup diskusi itu dan mengatakan bahwa dia akan berusaha untuk menjadi orang yang kuat dengan prinsipnya.
Saya menambah bahwa apa yang akan dia tuliskan itu betul apa adanya dan itu akan menjadi sebuah perjalanan yang menarik jika ditulis.
Siang itu kita bergabung dengan beberapa sineas muda dan akhirnya makan di sebuah kantin. Kami mengobrol sampe sore sampai akhirnya kita saling berpamitan untuk pulang. Itu mungkin sekitar 2014 dan sekarang sudah 2022, tidak terasa sudah lama terjadi dan saya belum mendapatkan kabar dari dia sejak pertemuan itu.
Saya mungkin ingin mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Icha itu betul, walau memang beberapa hal yang fundamental tentang diri kita kadang menolak apa yang menjadi kebenaran di dunia ini. Kita memilih kenyataan apa yang terbaik buat kita. karena ini adalah hidup yang kita jalani.
Kadang jika kita mencapai sebuah ketenangan, kita ingin dunia berhenti berputar dan mengharapakan dunia berhenti disitu. Menikmati ketenangan itu adalah kebahagiaan, dan kita tidak ingin dunia mengubah dan merengut itu dari kita. Kadang pengubahan itu tidak perlu, dan perubahan itu mungkin hanya dalam film dan cerita karena manusia bisa jadi; tidak pernah berubah.
Memahami ide cerita film (premis dan logline) bisa dilengkapi dengan mempelajari "tema cerita" dengan membaca artikel Membedakan Tema Cerita, Ide dan Premis.
Apapun itu menurut saya tetap harus ditulis dan itu menjadi sebuah catatan penting bagi siapapun, menjadikan itu sebagian kenyataan yang memperkaya pengetahuan kita. Pengubahan adalah sebuah kejadian yang mana menjelaskan interaksi objek dan subjek, seperti pengubahan naskah. Sedangkan Perubahan adalah implikai tanpa menjelaskan subjek maupun objek. Naskah tentu tidak bisa berubah dengan sendirinya. Akan tetapi, seseorang berubah dengan sendirinya tanpa harus orang lain perlu mengubahnya.
Memang betul apa yang dikatakan Icha, kita tidak perlu mengubah diri karena orang lain.
0 Komentar