Menerapkan Weakness, Obstacle dan Need pada Karakter Cerita dalam Menulis Skenario Film.


Membuat karakter itu sangat penting sebagai modal untuk menulis skenario film. Pada artikel sebelumnya yaitu memahami desire pada character driven story, kita melihat bahwa ada beberapa konsep yang dikembangkan oleh Robert McKee untuk melihat karakter lebih dalam. Menurut McKee seorang karakter memiliki dua jenis desire yaitu unconcious desire dan concious desire. Dalam penjelasannya, seorang karakter ketika ditanya apa yang dia inginkan maka dia akan menyatakan concious desire. Akan tetapi apa yang dia lakukan, tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan dikarenakan dia memiliki unconcious desire. Ketimpangan antara apa yang dia inginkan dan apa yang dia lakukan membentuk desire, apapun itu berubah ubah sepanjang cerita.

Dalam menulis skenario film, tentu penulis diberikan banyak pilihan dalam membentuk karakter dan ini adalah salah satunya yakni menerapkan weakness, obstacle dan need. Sedangkan Truby melihat dari konsep weakness, obstacle dan needs. Menurut Truby, kelemahan (weakness) yang dimiliki karakter membuat dia menghindari dia dari kebenaran yang menjadi needs. Sedangkan obstacle (tantangan) adalah sesuatu yang terus menerus menyimpan kelemahan tersebut.

Truby menggunakan kata needs namun ada perbedaan antara needs diawal cerita dan juga needs ditengah cerita. Needs diawal diawal cerita datang dalam bentuk weakness atau kelemahan yang dimiliki karakter. Seorang karakter akan terus menerus mengalami sebuah persimpangan pilihan, namun dia selalu kembali pada pilihan yang salah karena kelemahan pada dirinya. Dalam psikologi inilah yang disebut dengan trauma, atau sebuah kobohongan yang terus menerus diingat yang dianggap betul.

The greatest source of our suffering is the lies we keep telling ourself  - Bessel A. van der Kolk

Trauma dalam hidupnya membuat dirinya terus menerus menghalangi dia untuk berkembang, menjadi manusia yang utuh. Weakness dalam dirinya adalah kelemahan yang menghalangi dirinya untuk mencapai tujuannya. Dalam cerita film dan juga dalam mengembangkan karakter ketika menulis skenario film, konsep ini bisa digunakan untuk bisa mendapatkan simpati dari penonton. Dimana karakter terus menerus diingatkan untuk harus berbuat sesuatu terhadap weakness yang dimilikinya.

Konsep Truby bisa dijelaskan dengan film Finding Nemo (2003). Marlin adalah seekor ikan yang kehilangan istrinya dari serangan ikan Baracuda dan meninggalkan satu telur yang menjadi anak satu satunya, Nemo. Marlin sangat protektif kepada Nemo, namun pada akhirnya diambil dan dibawa ke suatu tempat jauh. Nemo dengan kelemahan untuk menjauhi ikan - ikan lain harus menemukan Nemo. Satu persatu, kelemahan yang menjadi tantangan dia untuk menemukan anaknya bisa diatasi sampai dia pun menyadari bahwa kelemahan dia adalah melihat dunia sebagai tempat yang buruk. Marlin harus bisa mempercayai dunia sebagai tempat yang baik untuk dirinya dan anaknya, dan itu diwujudkan dalam bentuk mempercayakan anaknya untuk membuat keputusan sendiri.Karakter Marlin didesain memiliki kelemahan berupa rasa tidak aman membuatnya sulit percaya pada siapapun. Rasa tidak aman ini membuat dia was was, melihat dunia sebagai tempat yang berbahaya. Kelemahan ini membentuk pribadi yang ingin terus menjaga Nemo, sehingga menjadi melindungi berlebihan (over-protective). Sepanjang cerita dalam mewujudkan tujuannya yaitu menemukan Nemo, Marlin terpaksa menghadapi dunia yang dia anggap buruk. Dia memberanikan diri untuk mengambil langkah pertama yakni bertemu dan mempercayai Dory yang mengalami short-term memory lost, lalu kawanan hiu yang mengaku vegetarian, dan juga paus yang memakannya, dan lain sebagainya. Semua itu menguji kelemahannya. 

Hambatan (obstacle) menjadi penting karena menguji kelemahan karakter, di saat karakter berhasil lulus dari ujian, dia akan menyadarri apa yang dibutuhkan. Ketika karakter kemudian bertindak berdasarkan apa yang dibutuhkan, maka hidupnya menjadi lebih baik. Dalam membentuk karakter yang kuat, penulis harus mempersiapkan hubungan erat antara obstacle dan weakness ini. Obstacle, dalam bentuk plot maupun dalam bentuk antagonis harus dibuat selalu aktif mengganggu protagonis dalam mendapatkan tujuannya dengan cara menyerang titik lemah dari karakternya. Antagonis yang baik harus mampu menjadi karakter yang memahami kelemahan protagonis dan berusaha menaklukkan protagonis dengan aktif menyerang titik lemah ini bertubi-tubi di sepanjang cerita dengan berbagai cara. 

Dalam buku The Anatomy of Story, John Truby menjelaskan kelemahan terdapat dua jenis:

  1. Kelemahan psikologis (psychological weakness) kelemahan yang berhubungan dengan dalam diri karakter, seperti gugup selalu, pemalas, naif, sulit menolak dsb. 
  2. Kelemahan moral (moral weakness) kelemahan yang hubungannya dengan lingkungan atau orang lain, seperti suka menyakiti orang lain, suka mencari kambing hitam atas kesalahan yang diperbuatnya, intimidatif kepada orang lain, acuh tak acuh dengan lingkungan sekitar, dsb. 

Contoh dalam film Batman (2008) adalah dibuatnya seorang antagonis yang baik, yang mana seorang tokoh yang menyerang antagonis yaitu Joker. Batman memiliki kelemahan yaitu dia ingin membasmi kejahatan, tetapi dalam melakukan itu dia mengorbankan segalanya. Salah satu kelemahan moral Batman adalah tidak mengambil nyawa, namun Joker menekan Batman dengam membunuh orang dalam rangka membasmi kejahatannya. Dalam film batman, banyak orang terdekatnya meninggalnya. Kebohongan yang dipercayai Batman adalah seorang figur gelap bahwa dia harus berkorban untuk semua orang, Batman tidak memiliki batasan! Film ini pun memiliki konsep yang menguji konsep kelemahan itu sendiri, bahwa semua seorang memiliki kelemahan. Batman adalah seorang biasa, dan seperti yang dikatakan oleh Alfred semua orang memiliki batas.

Itulah bagaimana menerapkan weakness, obstacle dan need pada karakter cerita dalam menulis skenario film. Bagaimana anda setuju dengan konsep ini? Apakah anda memiliki konsep lain dalam membentuk karakter yang baik ? Silahkan memberikan komentar di bahwa ini.

Posting Komentar

0 Komentar