Memahami "desire" dalam Character Driven Story



Kayaknya kita sudah mulai jenuh dengan premis pelajaran sinopsis ini ya? dan sebenarnya masih banyak sekali yang perlu dibahas. Kalau kita tengok bukunya para master, seperti aki McKee atau mbah Snyder, ketebalan buku mereka itu sejumlah ratusan halaman, (dan mengingat kita hanya bicara seputar premis dan sinopsis saja, kita ketinggalan hehe) Sambil berjalan menulis sinopsis dan belajar memahami premis, mari kita pelajari "desire". Hal ini menjadi penting karena ketika nanti menulis skenario film, kita harus sudah mengetahui secara jelas tujuan dan arah cerita tersebut.

Baiklah, seharusnya pada tahap penulisan premis atau sinopsis sekalipun, konsep desire ini sudah terkandung didalamnya. Perlu diketahui bahwa pada setiap penulisan cerita, harus ada semacam deskripsi karakter atau penokohan yang disimpan baik-baik oleh penulis (lebih dikenal dengan istilah "character bible"). Boleh dikatakan dalam deskripsi ini ada penjelasan watak atau karakterisasi tokoh utama. Bisa saja dimulai dari; kenapa mereka memiliki nama seperti itu, tanggal lahir, kebiasaan, kesukaan, dsb semua hal yang menyangkut ciri prilaku mereka yang nanti dapat dijadikan rujukan mengenai tindakan mereka. Kalau anda tidak memiliki deskripsi karakter seperti ini, ya mulailah untuk membuatnya, ini penting untuk membuat cerita yang baik. Sebuah cerita yang baik secara keseluruhan itu adalah pemahaman karakter pada sebuah motivasi dalam plot, sehingga sebuah adalah memiliki hubungan dengan erat cerita.

Setelah kita menuliskan premis kita harus sudah memikirkan konsep desire. Ini terjadi sebelum kita menulis skenario film dan masih dalam tahap pengembangan. Desire adalah kata yang digunakan oleh Robert Mckee, yang menggambarkan hasrat. inilah yang menjadi entitas penting dalam wujud "tindakan" para karakter dalam cerita. Hal ini penting karena inilah yang membentuk pesan utama kita nanti. Hasrat ini dibedakan menjadi dua, yakni needs dan wants.

Sebelumnya istilah "ingin" sudah terbahas dalam cara penulisan premis, akan tetapi istilah yang sama ini sudah berubah makna kembali. Hal ini perlu dipahami karena acuan bahasa yg digunakan, bahasa Inggris. Bila dalam premis kata "ingin" mewakili sebuah tujuan, maka dalam masalah desire ini, kata "ingin" merujuk pada makna hasrat dan pada cerita hasrat ini dibagi dua yakni concious desire (hasrat yang disadari) dan unconcious desire (hasrat yang tidak disadari). 

Concious desire yg mana berwujud dan unconcious desire adalah tidak berwujud. Sebelum kita lanjut ada dua penjelasan yg perlu disampaikan terkait penggunaan makna ingin dan pemahaman desire.

Ya memang desire itu tujuan, tetapi dalam pembahasan ini dimana muncul perbedaan unconcious desire dan concious desire sehingga perlu dimaknai ulang. Hal ini penting untuk menghindari kebingungan, mana acuan yang betul dan mana yang harus dipahami untu diterapkan dalam menulis skenario film. Perlu diketahui bahwa masalah ini hanyalah persitilahan belaka. Walaupun kita mengacu pada banyak sumber penulisan, kita merujuk pada peraturan umum saja, dan peraturan ini terbentuk oleh kebiasaan. Kebiasaan penulisan desire yang diberdakan melalui needs dan wants sampai saat ini adalah "keinginan" sekaligus "tujuan" entah itu berwujud atau tidak.

Selanjutnya adalah penjelasan pada pemahaman desire dan kategori needs dan wants. Teori McKee bermuara pada peristilahan, sedangkan teori Truby bermuara pada penerapan konsep. Truby mengaitkan needs dengan weakness (kelemahan) pada teorinya; weakness karakter dapat diatasi dengan needs.

Pada artikel artikel ini, maka banyak menggunakan konsep needs dan wants yang sebenarnya bisa diterjemahkan pada konsep unconcious desire (needs) dan konsep concious desire (wants). Kedua konsep saling memiliki persamaan, akan tetapi McKee masih menggunakan istilah "needs" yang membedakan dari kedua konsep sebelumnya. McKee menjelaskan ini dengan contoh; Dalam film Carnal Knowledge (1971) Jack Nicholson memainkan peran Jonathan, adalah seorang lelaki yang melihat perempuan dari sisi fisik saja. Hal ini membuat Jonathan seseorang yang tidak manusiawi, dan inilah ruang operasi desire. Menurut McKee, desire adalah ruang yang hanya diketahui penulis yang mana tidak perlu diketahui karakter. Penulis boleh mengarahkan penonton untuk memhami desire. Jonathan menyatakan concious desire - nya untuk mencari cinta sejati, namun dia justru memandang rendah perempuan dengan mengatakan bahwa daya tarik perempuan hanya pada bentuk fisik mereka (sebagai unconcious desire). Ketika desire - nya ini seimbang maka needs karakter itu tercapai. Akan tetapi ketika needs - nya tidak tercapai, maka dia akan terus berjalan mencari mencari... dan bahkan cerita bisa diselesaikan tanpa harus karakter menemukan needs - nya.

Itulah yang bisa dijelaskan dalam artikel dalam membahas desire dalam character driven story. Semoga bermanfaat. 

Posting Komentar

0 Komentar