Ketika kita menulis skenario film terkadang kita menulis sebuah action dengan sangat detail, tetapi akhirnya kita terbawa suasana untuk mempercantik adegan itu. Perlu diketahui bahwa sebuah skenario itu harus dibuat se-efektif mungkin karena ada durasi yang harus dipertahankan. Berikut adalah beberapa contoh bagaimana menulis action yang efektif melalui perbaikan. Disini bisa dilihat bahwa menulis ulang (re-write) adalah bagian terpenting dari penulisan. Re-write ini terus dilakukan sampai pada akhirnya membentuk visualisasi yang nyata, yakni hanya adegan/tindakan itu yang dapat dilihat.
contoh pertama
"seorang pria tertegun ketika melihat seorang wanita turun dari sebuah mobil tampak wanita itu bagaikan bidadari yang turun dari kayangan"
Dia berdiri di pinggir jalan dan sekilas melamun, sampai sebuah mesin menderum sangar pas dihadapannya. Kilap mobil itu ditambah lebih menawan dengan keluarnya seorang wanita, terbungkus dalam kain merah-melambai. Rona matanya yang tajam membuat dia gugup. (36 kata)
Ada keterangan bahwa ada pergerakan yang cepat, kemudian menjelaskan secara visual "bidadari yang turun dari kayangan" dengan menjelaskan langsung objek. ada kilap mobil, baju yang dipakai kemudian mata perempuan.
Revisi kedua, efektif;
Melamun di pinggir jalan membuatnya terkaget ketika sebuah mobil berhenti pas di depannya. Sekilas melihat kilap mobil itu, seorang perempuan keluar dengan baju merah. Matanya membuat-nya gugup. (27 kata)
Pergerakan momentum yang lebih cepat lagi, kemudian menghilangkan kesan kesan yang tidak penting (kain merah-melambai, wardrobe bisa berubah) kata ganti "dia" langsung di masukan pada imbuhan "membuatnya" terkaget dan "membuat-nya" gugup
contoh kedua
Komisaris berperut tambun berdiri di samping sosok mayat yang mati dengan posisi terduduk, kepala tertunduk dan kening yang menempel pada tut grand piano berkontuksi kayu mengkilap. Kedua tangan mayat menjuntai menyentuh lantai marmer Italy yang melapisi seluruh ruangan berbentuk oval.
Dua petugas DVI yang ada di ruangan tampak sibuk mengumpulkan bukti dan sampel darah yang ada di lantai dan beberapa di tut piano berwarna putih dan sedikit hitam seperti kombinasi warna Zebra.Komisaris mencondongkan badannya ke piano, lalu tangannya yang terbungkus sarung tangan karet menyentuh selembar kertas partita yang ada di atas piano. Keningnya berkerut saat membaca urutan not balok yang terangkai menjadi sebuah alunan music. Lama ia baca kertas itu, sampai dua petugas DVI yang ada di dekatnya tampak curiga lalu bergerak mendekati dan mengapit tubuh tambunnya demi ikut membaca partita yang penuh misteri yang kini ada di tangan Komisaris.
Revisi pertama; visualisasi
Komisaris melihat mayat itu dalam posisi duduk, kepalanya tertunduk. Dia mendekat, melangkah dengan agak sulit, perut besarnya bergoyang. Kening mayat itu menempel pada tut piano. Melihat kebawah, tangannya membiru, menggantung dan menjuntai menyentuh marmer yang mengkilap.
Dua petugas berjubah putih sibuk mengumpulkan bukti. Ruang Oval di penuhi marka dan peralatan. Satu menggores darah kering, lalu menaruhkan pada kaca kecil. Darah itu menempel pada lantai, dan yang lain di tut. Komisaris menghela nafas dalam, dia menghembuskannya ke atas, ke wajahnya.
Mata tajamnya tertuju pada partita, tertuliskan not not balok yang membuat dia berkerut kening. Menggunakan sarung tangan karet, dia mengambilnya. Mata bulatnya mencoba melihat lebih dekat lagi. Not balok itu membuat aneh sang komisaris, gerahamnya memberat, membuka mulutnya. Hawa keanehan itu mengundang petugas turut mendekat, sekarang enam mata bulat melihat kertas kertas itu.
Revisi kedua: lebih efektif
Mayat itu dalam posisi duduk tertunduk pada piano. Dengan tubuhnya yang besar, dia melangkah pesan dengan susah, menghindar berbagai perabot dan lantai yang berserakan bukti bukti.
Komisaris melihat mayat itu dalam posisi duduk, kepalanya tertunduk. Dia mendekat, melangkah dengan agak sulit, perut besarnya bergoyang. Kening mayat itu menempel pada tut piano. Melihat kebawah, tangannya membiru, menggantung dan menjuntai menyentuh marmer yang mengkilap.
Dua petugas berjubah putih sibuk mengumpulkan bukti. Ruang Oval di penuhi marka dan peralatan. Satu menggores darah kering, lalu menaruhkan pada kaca kecil. Darah itu menempel pada lantai, dan yang lain di tut. Komisaris menghela nafas dalam, dia menghembuskannya ke atas, ke wajahnya.
Mata tajamnya tertuju pada partita, tertuliskan not not balok yang membuat dia berkerut kening. Menggunakan sarung tangan karet, dia mengambilnya. Mata bulatnya mencoba melihat lebih dekat lagi. Not balok itu membuat aneh sang komisaris, gerahamnya memberat, membuka mulutnya. Hawa keanehan itu mengundang petugas turut mendekat, sekarang enam mata bulat melihat kertas kertas itu.
Revisi kedua: lebih efektif
Mayat itu dalam posisi duduk tertunduk pada piano. Dengan tubuhnya yang besar, dia melangkah pesan dengan susah, menghindar berbagai perabot dan lantai yang berserakan bukti bukti.
Kening mayat menempel pada tut piano, melihat kebawah. Tangannya membiru, menyentuh marmer yang mengkilap. Sementara mata Komisaris tertuju pada partita, dua petugas berjubah putih sibuk mengumpulkan bukti. Ruang Oval itu berserakan marka dan peralatan. Satu petugas menggores darah kering, lalu menaruhkan pada kaca kecil. Satu percikan darah menempel pada lantai, dan yang lain pada tut.
Menggunakan sarung tangan karet, kertas partita itu diambil. Komisaris melihat lebih dekat lagi. Not balok itu terasa aneh, matanya melihat kesana kemari. Petugas turut mendekat, sekarang tiga orang melihat pada kertas itu.
Menggunakan sarung tangan karet, kertas partita itu diambil. Komisaris melihat lebih dekat lagi. Not balok itu terasa aneh, matanya melihat kesana kemari. Petugas turut mendekat, sekarang tiga orang melihat pada kertas itu.
Demikianlah contoh melakukan revisi dalam membuat adegan atau action ketika menulis skenario film. Tentu hal ini menjadi penting karena dalam menulis skenario film diperlukan ke-efektifan sehingga pembaca bisa memahami secara rinci apa yang akan divisualisasikan. Semoga bermanfaat.
0 Komentar