Mengapa Krisis Penulis Terjadi di Indonesia?


Beberapa tahun lalu, seorang kawan membuat sebuah agensi penulis dan sudah 3 kali dia kehabisan "stock penulis". Seperti sebuah manajemen, agensi menyalurkan penulis pada sektor-sektor yang membutuhkan melalui jaringan pekerjaan. Penulis biasanya disalurkan ke stasiun TV, agensi, atau PH disana mereka menerima "job" dan pekerjaan mereka sangat bervariasi. Mulai dari development ide konsep, menulis cerita, sampai menulis materi berupa naskah atau skenario. Sedikit sekali dari para penulis ini yang mengerti konsep "penulisan", atau cara menulis skrip dengan benar, apalagi sedikitnya pemahaman atau yang bisa mengerti cara bersikap secara profesional. Ketimpangan ini lah membuat agensi sebuah jembatan dan memainkan peran mereka sebagai penengah antara client dan penulis.

"Stock penulis" sering kali habis karena hanya sebagian dari mereka yang serius mau menulis dengan professional, karena menganggap menulis itu hanyalah hobi saja. Sedangkan sisanya, tidak kuat dengan tekanan kerja dan kurangnya kemampuan beradaptasi dengan lingkungan kantor karena job itu tergantung client. Dalam setahun kita bisa menghadapi 10 client artinya harus bisa mengerjakan 10 job, diantara mereka ada yang sama deskripsinya. Akan tetapi kalau tidak, artinya bisa berbeda beda; jadi harus menghadapi client dalam meeting yang mana terletak di 10 lokasi kantor yang berbeda, atau kemungkinan dalam menghadapi client kita harus siap dengan 10 cara bersikap yang berbeda. Bayangkan saja kita harus memenuhi semua tanggung jawab itu.

Hanya bermodalkan imajinasi dan percaya diri, penulis tidak mungkin bisa bertahan lama. Dia tidak hanya harus mampu menulis skenario atau skrip, tetapi juga harus mengerti "Kreativitas". Hal ini menjadi sangat krusial. Tetapi banyak sekali penulis yang merasa mereka sudah mencukupi persyaratan kreatif, merasa hal itu sangat simple sekali, atau sudah menjadi bakat alami. Kalau anda belum bisa menulis 10 materi dalam sehari dalam bentuk ketikan artinya belum bisa disebut penulis kreatif. Tidak cukup segitu; karena dari 10 materi, Anda harus siap melakukan revisi. Artinya dalam sehari seorang penulis harus siap menulis kembali atau lebih dikenal dengan kata "re-write" sebanyak mungkin yang diperlukan. Disinilah yang membedakan antara penulis handal dan tidak.

Menulis bagi penulis itu mudah, tetapi memerlukan sebuah komitmen untuk menjadi penulis profesional. Tidak semua orang mengerti proses, dan re-write akan menjadi sangat sulit jika tidak mau memahami. Disitulah masalahnya; tidak semua penulis siap dan paham untuk melakukan re-write. pada kebanyakan kasus mereka mengalami "exhaustion". Kemampuan mereka berfikir secara berangsur-angsur menurun dan akhirnya daya pikirnya tergerus habis. Apalagi tidak memiliki cara bersikap kreatif yang baik, mereka akhirnya tersesat di dalam labirin pemikiran. Obatnya hanya satu, yakni membaca. Karena hanya seorang penulis yang doyan membaca dapat menjadi kreatif. Mulai dari komik, karya sastra, berita, koran, majalah, jurnal ilmiah, dokumen dll. Membaca adalah kegiatan konsumsi, seperti halnya menonton dan melihat, penulis dituntut mengetahui banyak hal. Konsumsi ini didasari oleh rasa ingin tahu, bahwa "Saya merasa perlu diisi", kesadaran dirinya untuk tetap haus dan lapar, "stay foolish".

Akan tetapi yang lebih penting lagi adalah masalah teknis penulisan. Teknis ini mencakup cara menulis skrip dan skenario sesuai aturan dan standard yang berlaku. Perihal teknis ini pun sangat mudah dipahami, walaupun demikian banyak yang belum mau mengerti. Inilah yang menyebabkan para penulis hilang konsentrasi dan mengalami kelelahan. Akibat tekanan kerja dan pengetahuan yang terbatas maka kerja mereka akan semakin berat. Ibarat menggarap sawah dengan cangkul yang longgar, tidak kokoh, pakem atau handal. Tiap kali diayun ada saja masalahnya, hanya akan memakan waktu lebih lama, menambah beban kerja dan tidak menyelesaikan masalah. Raditya Dika pernah menyatakan bahwa banyak penulis yang terjebak pada alur cerita yang berputar-putar, dan tidak mengenal dasarnya penulisan. Padahal kalau dipikir-pikir, sangatlah mudah untuk mempelajari perihal teknis ini. Ternyata kebanyakan orang yang mengaku dirinya penulis tidak mengenal dasar-dasar ini.

Kebanyakan orang tidak mengenal ide dan tidak bisa menangkapnya; dikarenakan ide tidak memiliki wujud. Hanya orang orang tertentu yang dapat memahami sesuatu yang tidak berwujud, dan beberapa orang-orang itu berprofesi sebagai penulis.

Bagaimana menurutmu?

Posting Komentar

6 Komentar

  1. kalo mau cari agen penulis untuk memasarkan tulisan saya bisa dikontak kemana yah? terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agen penulis freelance di jakarta itu baru kehitung jari, dan mereka biasanya adalah sebuah lembaga kursus menulis yang mana ketika peserta yang barus lulus akan dicoba lalu diuji menulis untuk TV.

      Pada intinya harus teruji dulu kemampuan dan kebiasaan menulisnya. Untuk sekedar cari cari info coba kunjungi Fanpage kami di Facebook. txs

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  3. Mantap. Saya setuju. Hanya orang-orang tertentu yang bisa berprofesi sebagai penulis dan alasannya logis (y)

    BalasHapus
  4. Mantap. Saya setuju. Hanya orang-orang tertentu yang bisa berprofesi sebagai penulis dan alasannya logis (y)

    BalasHapus
  5. Kebanyakan penulis itu karena hobi gan. Serius jadi penulis kalau dapat dibayar.

    BalasHapus