Ada 3 hal yang akan dijadikan pertimbangan seorang produser untuk memproduksi sebuah film; Cerita, packaging dan momentum. Hal ini menjadi pembahasan menarik ketika menghadiri sebuah acara Sunday Meeting oleh penerbit Agromedia di Gramedia Matraman ketika mengangkat film dari novel. Dalam acara itu membahas bagaimana proses adaptasi novel ke dalam film yang juga dihadiri oleh sorang penulis muda, Haqi Ahmad. Dalam acara itu kita bisa melihat bagaimana cara pikir seorang produser dalam memilih ide cerita film. Intuisi dan juga landasan logis produser ini disampaikan oleh Yoen K. yang mewakiliki Maxima Picture. Disitu dia meneyebutkan apa pertimbangannya ketika hendak memberikan investasi yang dia miliki untuk memproduksi film. Berikut adalah penjelasnnya;
Cerita yang baik adalah ide atau konsep yang bener - benar baru, dan juga dapat menghibur penonton. Biasanya kombinasi dari kepiawaian penulis dalam membuat cerita atau juga bisa jadi sebuah ide yang orisinil. selain itu juga ada unsur - unsur yang mudah dipahami oleh masyarakat umum, adegan yang lazim, setting yang familier atau karakter yang lekat dengan masyarakat. Adalah sebuah film yang ideal dimana bisa ditonton oleh semua umur, tetapi umumnya cerita yang baik adalah film yang diperuntukan oleh penonton muda dengan cerita - cerita dengan nuansa kekinian. Salah satu genre yang sudah pasti memiliki pasar adalah genre horror, karena memiliki unsur thrill yang mana disukai penonton. Kemudian yang menjadi genre mahal adalah komedi, sesuai dengan mahalnya karena skenario film semacam ini juga memiliki tantangan yang tinggi.
Salah satunya contoh cerita unik dan disukai penonton adalah Dilan 1990 (2018) karena memiliki setting 90-an dengan konsep cinta remaja SMA. Selain itu adalah Dua Garis Biru (2019) yang mengangkat cerita kehamilan remaja SMP dan masalah yang dihadapi pasangan remaja itu sekitar keluaga dan lingkungannya.
Packaging adalah cara produser melihat konsep - konsep diluar cerita seperti daya tarik masyarakat terhadap film sebagai produk atau komoditas. Biasantya packaging ini menyangkut casting, informasi seputar ide konsep film dan juga kehebatan potensi seorang sutradara dalam mengarahkan film. Hal ini bisa dimulai dari sejak cerita ini dibuat dengan membayangkan aktor dan aktris mana yang berpotensi untuk memainkan film - film ini, dan ini termasuk sebuah visi penulis yang sudah ahli. Selain itu juga penulis bisa mengkategorikasikan sutradara dengan cara masing - masing gaya dalam pengambilan gambar. Walaupun ini bukan ranah seorang penulis secara murni. tetapi memikirkan bagaimana "menuangkan ide dalam wadahnya" pun bisa dilakukan sejak awal menulis cerita. Packaging adalah hal yang mudah untuk dijual, seperti hal - hal yang sudah lekat dengan masyarakat.
contoh film dengan packaging dengan visual yang baik adalah Quickie Express (2007), MamaCake (2012) dan My Stupid Boss (2016). Ketiga film itu, mudah dijual karena dengan hanya trailernya pun penonton sudah bisa melihat sisi artistik film tersebut. Kedua, adaptasi novel itu juga berpotensi menjadi film yang baik karena sudah ada fanbase novel tersebut dan juga penulis novel siap mempromosikan kepada para pembacanya. contoh lain yang menawarkan packaging adalah Marlina si pembunuh dalam 4 babak (2017) , Postcard form the zoo (kebun binatang) (2012) dan Pendekar Tongkat Emas (2014).
Momen momen, adalah sebuah ide dan gagasan yang sangat bisa dipikirkan sejak penulis. Hal ini termasuk kapan film akan dirilis, lalu berkenaan dengan masalah atau isu sosial yang sedang hangat dibicarakan. Kemudian juga hal hal yang berkenaan dengan implikasi penonton terhadap film, seperti resonansi dan kemudian kesan sesudah menonton. Salah satu film yang membahas isu yang abadi adalah masalah religius, dan bisa dirilis ketika saat lebaran dan atau momen - momen yang penting lainnya. Selain itu juga film yang membahas isu dan masalah yang lekat dengan kekinian yang mana melihat kejadian itu dari sisi yang berbeda. Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015) membahas masalah pendidikan dan juga perlakukan minoritas di kalangan masyarakat Indonesia, kemudian Titian Serambut dibelah Tujuh (1982) membahas hoax dan fitnah. Contoh lain adalah Kucumbu Indah Tubuhku (2016) yang membahas kesehatan mental dan hubungannya dengan trauma.
Seorang penulis memang akan menjadi sulit jika dia terus berpegang terlalu teguh dengan kesempurnaan yang berkaitan dengan nilainya. Hal ini memang sering ditemui pada penulis - penulis, dimana jiwanya adalah melawan dan pemberontak yang jika ditemui produser dia mengkaitkan dengan masalah komersialisasi dan kosumerisme. Dia akan merasa perlu diperhatikan, karena dia menganggap lekat dengan publik dan juga nilai sosial yang ada pada dirinya. Jika bukan menolak idealisme pasar, adalah anggapan penulis yang merasa dirinya istimewa dan anggapan produser membutuhkan dirinya. Padahal sebaliknya produser bisa memilih dari sekian banyak penulis yang mengajukan ide konsep cerita yang menarik.
Seorang penulis memang akan menjadi sulit jika dia terus berpegang terlalu teguh dengan kesempurnaan yang berkaitan dengan nilainya. Hal ini memang sering ditemui pada penulis - penulis, dimana jiwanya adalah melawan dan pemberontak yang jika ditemui produser dia mengkaitkan dengan masalah komersialisasi dan kosumerisme. Dia akan merasa perlu diperhatikan, karena dia menganggap lekat dengan publik dan juga nilai sosial yang ada pada dirinya. Jika bukan menolak idealisme pasar, adalah anggapan penulis yang merasa dirinya istimewa dan anggapan produser membutuhkan dirinya. Padahal sebaliknya produser bisa memilih dari sekian banyak penulis yang mengajukan ide konsep cerita yang menarik.
Sekarang. masalah yang paling utama dalam menulis skenario film adalah kepercayaan diri, karena dikaitkan dengan sikap dan attitude seorang penulis yang didewasakan di lingkungan produksi yang tertutup. Selain itu, terkadang juga masalah media menjadi hubungan yang erat dengan mental penulis seperti bagaimana dia memahami media film sebagai perpaduan seni dan budaya melainkan sebuah hiburan semata. Pemahaman semacam ini seakan nyaris tak terbahas, karena mungkin para profesional sibuk dengan dunianya masing masing. Produser tentu memiliki harapan untuk membuat film - film bagus, dan penulis memang butuh kesempatan untuk berkembang.
Attitude seorang penulis adalah dia mampu memberikan solusi, dia bisa memberikan ruang bagi rekan rekan kerjanya. Penulis terkadang takut kehilangan momentum, missing out something. Seorang penulis, atau siapapun yang sedang berjuang menjadi seorang profesional harus bisa menikmati proses perubahan tersebut. Jadilah yang terbaik, dengan berproses. Karena produser selalu mencari yang terbaik.
Silahkan tinggalkan kesan kamu, pesan atau mungkin corat-coret yang ingin kamu bagikan di kolom komentar dibawah ini.
Silahkan tinggalkan kesan kamu, pesan atau mungkin corat-coret yang ingin kamu bagikan di kolom komentar dibawah ini.
0 Komentar