waspadailah beberan #alah *spoiler alert, bacalah tulisan ini dengan resiko yang dapat mengurangi kenikmatan menonton film aslinya.
Hello guys, kayaknya memang kurang okay deh kalo situs penulisan film nggak membahas film... so here it is. Dari penulisan review akan dibahas cerita-nya, yang akan mempertajam kemampuan kita dalam menulis skrip, jadi bedanya sih... disini pembahasannya lebih ke arah scriptwritting dan script analysis. Okay here we go!! Jadi sudah beberapa lama ini gue (di post "review" ini, pake lo-gue aja ye) menonton banyak film ... dan gue jarang banget nonton film di bioskop ... karena kalo nggak worth it ngapain juga ditonton di layar guede gitu kan? lagian kan kita harus smart dengan keuangan, beda ama "pelit" yang jawabannya selalu "nggak usah nonton di bioskop". sekali - kali aja lah... setahun sekali...
Salah satu film yang menurut gue okay akhir - akhir ini adalah Edge of Tommorrow (2014). Iye film itu yang dibintangi Tom Cruise. nah sebelum lo pada prejudice terhadap om Cruise yang satu ini, ya gue nggak nyalahin lo sih. Film terakhirnya oblivion (2013), yang menurut gue kurang menarik dari sisi drama dan nanggung di sci-fi, apalagi MI4 (2011) yang jungkir balik, dengan production value yang nggak maksimal melalui bloking visual yang sempit... ya sah-lah lo kecewa. Tetapi itulah Hollywod film unpredictble, gue nonton film ini pas masih berkualitas TS dari torrent, hasilnya cukup terang tapi gambarnya mau gimana pun kalau cerita mantabh teteb menurut gue film ini sangat "KEREN" ...
Hello guys, kayaknya memang kurang okay deh kalo situs penulisan film nggak membahas film... so here it is. Dari penulisan review akan dibahas cerita-nya, yang akan mempertajam kemampuan kita dalam menulis skrip, jadi bedanya sih... disini pembahasannya lebih ke arah scriptwritting dan script analysis. Okay here we go!! Jadi sudah beberapa lama ini gue (di post "review" ini, pake lo-gue aja ye) menonton banyak film ... dan gue jarang banget nonton film di bioskop ... karena kalo nggak worth it ngapain juga ditonton di layar guede gitu kan? lagian kan kita harus smart dengan keuangan, beda ama "pelit" yang jawabannya selalu "nggak usah nonton di bioskop". sekali - kali aja lah... setahun sekali...
![]() |
masih kualitas Telesyne, dapet dari kickass |
Salah satu film yang menurut gue okay akhir - akhir ini adalah Edge of Tommorrow (2014). Iye film itu yang dibintangi Tom Cruise. nah sebelum lo pada prejudice terhadap om Cruise yang satu ini, ya gue nggak nyalahin lo sih. Film terakhirnya oblivion (2013), yang menurut gue kurang menarik dari sisi drama dan nanggung di sci-fi, apalagi MI4 (2011) yang jungkir balik, dengan production value yang nggak maksimal melalui bloking visual yang sempit... ya sah-lah lo kecewa. Tetapi itulah Hollywod film unpredictble, gue nonton film ini pas masih berkualitas TS dari torrent, hasilnya cukup terang tapi gambarnya mau gimana pun kalau cerita mantabh teteb menurut gue film ini sangat "KEREN" ...
Baca juga :
Terus terang gue suka sci-fi, tetapi drama dibalik film ini yang menjadi menarik, potongan gambar - gambar yang membuat lo bergetar setiap adegan. Kayaknya memang film ini cocok buat para penonton yang udah kebiasa nonton vlogger ala Jump-cut yang pendek - pendek dengan visualisasi yang cepet. Ceritanya sih simple, tentang seorang juru bicara militer bernama Major William Cage (Tom Cruise) yang ditahan karena desertir militer dan dipaksa masuk camp pelatihan dan dikirim sebagai lini terdepan pada sebuah serangan melawan makhluk asing. Disitu, setelah mengalami death encounter yang "aneh" dengan salah satu makhluk asing... dia mengalami time-loop dimana dia selalu kembali lagi ke hari pertama dia masuk camp pelatihan... lagi ... lagi dan lagi .... setiap kali dia terbunuh atau mati.
Sebenarnya film yang terinspirasi dari berbagai sumber ini, akhirnya diambil dari hak cipta manga, melalui reproduksi dari novel pendek ke manga dan akhirnya diadaptasi menjadi spec script yang ditulis oleh Dante Harper (The One, 2002 kerasa banget kan genre action-nya). Premis film ini sangat sederhana, mengangkat ungkapan "kill or to be killed" (membunuh atau dibunuh). Dari novel pendek-nya aja berjudul all you need is kill karya Hiroshi Sakurazaka, memberikan kesan karakter yang sangat "manusiawi" (tadinya gue mau nyebut noir, tapi fast-moving-nya yang jadi nggak cocok).
Genre sci-fi dengan tema time loop ini udah pernah dipakai oleh ground hog day (1993) yang dibintangi oleh Bill Murray, yaaang sebenarnya juga ... konsep yang sama udah pernah dipake jauh lebih awal pada serial TV Twiligh Zone pada tahun 1963 dengan judul Death Ship. Akan tetapi adalah 12.01 PM (1973) karya Richard A Lupoff yang menginspirasikan gaya visualisasi time loop (adegan yang diulang - ulang) yang akhirnya banyak ditiru. Banyak lho film dengan tema time loop ini, kaya butterfly effect (2004), Run lola run (1998) dan setiap film itu punya gaya penceritaan yang beda ... tapi intinya muter - muter lah gitu... (bagi kalian yang mau baca lebih ttg time loop dalm film - film : http://www.imdb.com/list/ls009670122/). Walaupun ada adaptasi langsung dengan judul yang sama, 12.01 PM (1990) yang pernah gue tonton secara pribadi di stasiun TV Indonesia adalah yang disutradarai oleh Jonathan Heap (bisa dicari di youtube.com)
Tapi kali ini gue suka gaya penceritaan yang diulang - ulang kaya ini, seperti penceritaan Source Code (2011). Jadi sebenarnya kerasa betul setiap adegan itu berubah dengan bobot yang berbeda. Ini sih yang membuatnya jadi menarik, sampe - sampe lupa ini film dibintangi ama om Cruise. Secara filmic, setiap adegan memiliki sebuah meta komunikasi tentang perubahan di dalam karakter dan ini menjadi daya tarik tersendiri dari film ini. Berbeda sama Source Code yang berorientasi pada progress yang dialami dalam kemungkinan yang sempit, film ini berkembang dari upaya sendiri si William Cage, mencari kawan sampai mengalami beberapa pemikiran dan analisa untuk bisa berhasil dengan membuka banyak kemungkinan dan memperlihatkannya secara luas.
Visualisasi time loop ini diperlihatkan sangat cepat, terutama bagian dimana dia sedang mengalami pelatihan yang sangat super keras oleh karakter Vita Vrataski, dan berkali - kali dengan sengaja menembak kepala Cage untuk menghindari sakitnya sekarat. Beat-nya pun terasa, dimana dia hendak mengundurkan diri (naik) lalu ditahan dan mengalami cedera pada latihan (turun)kemudian menjadi mampu melalui latihan - latihan berat (naik) Vita yang selalu mati di pantai (turun) dia berhasil membawa Vita keluar dari pantai (naik) mengetahui bagaimanapun Vita akan selalu mati (turun) lalu memutuskan untuk tidak melibatkan Vita dan berhasil menemukan Waduk (naik) mengetahui bahwa dia telah diperdaya oleh para alien (turun) mendapatkan alat untuk mencari melalui jendral (naik) namun akhirnya kekuatan loop-nya hilang karena transfusi darah. sehingga...rekan satu kompinya harus bergabung membantu dirinya (naik) dan pada akhirnya pun kita masih bertanya - tanya, bagaimana akhir dari cerita ini? dengan menggunakan twist rada cheesy sih, supaya happy ending, tapi its okay-lah it works.
Arc di film ini sebenarnya menggunakan 5 babak, walaupun sebenarnya juga dapat dijelaskan dengan 8 babak namun pinch film ini terasa hilang di bagian terakhir... tapi jangan dipusingkan dengan rumus. Komentar yang bisa gue kasih adalah perubahan happy-ending yang kayaknya agak maksain, hampir serasa sama dengan pas endingnya source code (kerasa rada-rada nggak organik di source code, tapi di Edge of tommorow mekanik banget dech karena, nggak ada hubungannya dengan tindakan protagonis). Sebenarnya gue belum sempet baca cerpen-nya Landoff, atau pun Sakurazaka tapi menurut wikipedia 12.01 PM yang sempet dibuat lagi di tahun 1993 memberika kesan bahwa aselinya tidak berakhir dengan happy-ending. Artinya kayaknya konsep time loop ini harus sad-ending deh ? ... disini mungkin sisi kreatifnya, jadi memang merubah thriller menjadi murni film action.
Sebenarnya film yang terinspirasi dari berbagai sumber ini, akhirnya diambil dari hak cipta manga, melalui reproduksi dari novel pendek ke manga dan akhirnya diadaptasi menjadi spec script yang ditulis oleh Dante Harper (The One, 2002 kerasa banget kan genre action-nya). Premis film ini sangat sederhana, mengangkat ungkapan "kill or to be killed" (membunuh atau dibunuh). Dari novel pendek-nya aja berjudul all you need is kill karya Hiroshi Sakurazaka, memberikan kesan karakter yang sangat "manusiawi" (tadinya gue mau nyebut noir, tapi fast-moving-nya yang jadi nggak cocok).
Genre sci-fi dengan tema time loop ini udah pernah dipakai oleh ground hog day (1993) yang dibintangi oleh Bill Murray, yaaang sebenarnya juga ... konsep yang sama udah pernah dipake jauh lebih awal pada serial TV Twiligh Zone pada tahun 1963 dengan judul Death Ship. Akan tetapi adalah 12.01 PM (1973) karya Richard A Lupoff yang menginspirasikan gaya visualisasi time loop (adegan yang diulang - ulang) yang akhirnya banyak ditiru. Banyak lho film dengan tema time loop ini, kaya butterfly effect (2004), Run lola run (1998) dan setiap film itu punya gaya penceritaan yang beda ... tapi intinya muter - muter lah gitu... (bagi kalian yang mau baca lebih ttg time loop dalm film - film : http://www.imdb.com/list/ls009670122/). Walaupun ada adaptasi langsung dengan judul yang sama, 12.01 PM (1990) yang pernah gue tonton secara pribadi di stasiun TV Indonesia adalah yang disutradarai oleh Jonathan Heap (bisa dicari di youtube.com)
Tapi kali ini gue suka gaya penceritaan yang diulang - ulang kaya ini, seperti penceritaan Source Code (2011). Jadi sebenarnya kerasa betul setiap adegan itu berubah dengan bobot yang berbeda. Ini sih yang membuatnya jadi menarik, sampe - sampe lupa ini film dibintangi ama om Cruise. Secara filmic, setiap adegan memiliki sebuah meta komunikasi tentang perubahan di dalam karakter dan ini menjadi daya tarik tersendiri dari film ini. Berbeda sama Source Code yang berorientasi pada progress yang dialami dalam kemungkinan yang sempit, film ini berkembang dari upaya sendiri si William Cage, mencari kawan sampai mengalami beberapa pemikiran dan analisa untuk bisa berhasil dengan membuka banyak kemungkinan dan memperlihatkannya secara luas.
Visualisasi time loop ini diperlihatkan sangat cepat, terutama bagian dimana dia sedang mengalami pelatihan yang sangat super keras oleh karakter Vita Vrataski, dan berkali - kali dengan sengaja menembak kepala Cage untuk menghindari sakitnya sekarat. Beat-nya pun terasa, dimana dia hendak mengundurkan diri (naik) lalu ditahan dan mengalami cedera pada latihan (turun)kemudian menjadi mampu melalui latihan - latihan berat (naik) Vita yang selalu mati di pantai (turun) dia berhasil membawa Vita keluar dari pantai (naik) mengetahui bagaimanapun Vita akan selalu mati (turun) lalu memutuskan untuk tidak melibatkan Vita dan berhasil menemukan Waduk (naik) mengetahui bahwa dia telah diperdaya oleh para alien (turun) mendapatkan alat untuk mencari melalui jendral (naik) namun akhirnya kekuatan loop-nya hilang karena transfusi darah. sehingga...rekan satu kompinya harus bergabung membantu dirinya (naik) dan pada akhirnya pun kita masih bertanya - tanya, bagaimana akhir dari cerita ini? dengan menggunakan twist rada cheesy sih, supaya happy ending, tapi its okay-lah it works.
Arc di film ini sebenarnya menggunakan 5 babak, walaupun sebenarnya juga dapat dijelaskan dengan 8 babak namun pinch film ini terasa hilang di bagian terakhir... tapi jangan dipusingkan dengan rumus. Komentar yang bisa gue kasih adalah perubahan happy-ending yang kayaknya agak maksain, hampir serasa sama dengan pas endingnya source code (kerasa rada-rada nggak organik di source code, tapi di Edge of tommorow mekanik banget dech karena, nggak ada hubungannya dengan tindakan protagonis). Sebenarnya gue belum sempet baca cerpen-nya Landoff, atau pun Sakurazaka tapi menurut wikipedia 12.01 PM yang sempet dibuat lagi di tahun 1993 memberika kesan bahwa aselinya tidak berakhir dengan happy-ending. Artinya kayaknya konsep time loop ini harus sad-ending deh ? ... disini mungkin sisi kreatifnya, jadi memang merubah thriller menjadi murni film action.
"...Expanding on the original's premise of a one hour time loop, this version saw the main character reliving the same 24-hour period, which would restart at one minute past midnight (rather than midday as in the other versions). It also contains a pseudo-happy ending, as the protagonist ultimately finds a way to correct the time loop over the course of the film’s 92-minute running time."
Baca juga :
Daya tarik lain film ini adalah, perubahan diri yang sangat manusiawi dari karakter William Cage, awalnya dia tidak peduli dan ingin lepas tangan dengan militerisme yang kemudian berubah sikap menjadi watak keras akibat tempaan dan latihan oleh time loop yang mem-frustasikan. Ini adalah sebuah ide yang brillian sih, dimana si karakter dipaksa harus berubah dengan keadaan yang dia alami. Wants dia adalah mengakhiri time loop ini, dimana needs-nya adalah (walaupun agak lemah) menjadi sedadu tangguh yang terubah total dari seorang jubir humas yang agak lembek. Perubahan ini pun baru dia dapatkan ketika dia kabur dari camp dan sempat minum - minum di sebuah pub dan bertemu dengan beberapa veteran PD II yang memanggil dia "pengecut" karena lari dari tanggung jawab seorang serdadu yang seharusnya turun ke medan laga.*ini adalah artikel yang nggak pernah gue rilis karena satu hal dan lainnya, akhirnya nyambung juga dengan artikel2 tentang premis dan logline film sci-fi. Artikel akhirnya gue rilis juga tahun ini 2023, dan sebelum diterbitkan ada rewrite dikit.
0 Komentar