Salah satu bagian dalam proses pembelajaran penulisan cerita anda harus mengenal dulu cerita sebagai media. Iya, anda tidak salah membaca... "cerita itu adalah media" sehingga bila diangkat ke dalam tingkat komunikasi selanjutnya (film, sinetron, FTV, komik, novel, dsb), cerita menjadi subtext. Salah satu pernyataan yang menarik dalam memahami dan mempelajari penulisan cerita atau skenario adalah; memahami inti pesan anda dan disinilah cerita memainkan peran besarnya sebagai subtext tersebut. Blake Snyder mengatakan, inti pesan anda (premis cerita) adalah DNA yang dimana setiap halamannya mengandung inti pesan tersebut.
Ketika pertama kali mengajak anda untuk belajar menulis skenario atau cerita, saya akan mencoba menjelaskan banyak hal, semua itu adalah bagian dari sebuah cerita. Ada karakter, plot, struktur dan lain sebagainya yang menjadi aspek - aspek dalam cerita. Dahulu, kita ingat bahwa sebuah cerita disampaikan agar kita sendiri dapat mengerti pesan. Kayaknya sudah mendengar semua jenis cerita, seperti Kancil, Semar, Gatot Kaca, Batman, Sangkuriang, Kabayan, Alladin, Saori Hara, Miyamoto Mushashi dan masih banyak lagi, dijadikan dalam bentuk sebuah cerita. Cerita - cerita ini menjadi bagian dari hidup para pembaca. Intinya cerita itu mempengaruhi kita, cerita menjadi bagian dari pemikiran - pemikiran kita, entah itu cara kita lintasan gagasan, bertindak atau berbicara, cerita memberikan kita sebuah "contoh". Melalui cerita kita seolah mengalaminya sendiri, dan pada saat itu kita bisa merasakan "proses" adanya perubahan (dari tidak tahu menjadi tahu).
Katakanlah "contoh" itu adalah sebuah inspirasi, maka cerita adalah sebuah pesan yang mempengaruhi keberadaan kita dan banyak orang di berbagai dunia. Kita punya cerita dan ingin berbagi, karena kita merasa bahwa cerita kita sungguh baik dan bisa menjadi "contoh" untuk orang lain. Pada beberapa titik tertentu, kita ingin mempengaruhi orang lain... kita ingin mempengaruhi cara dunia berputar. Katakanlah, apapun yang mempengaruhi manusia itu adalah "nilai" maka kita ingin merasakan "nilai" tersebut dan mengajak orang untuk turut merasakannya. Embracing Value, mungkin kata yang lebih tepat untuk digunakan dalam membicarakan "nilai" dalam hal ini. "Cerita Kita" adalah sebuah ide mengenai bagaimana kita melihat dunia, dan "cerita" adalah media dimana kita ingin berbagi perasaan dan pengalaman itu kepada orang lain. Inilah inti dari sebuah cerita, berbagi pengalaman, perasaan dan "nilai" dan semacamnya.
Seorang Nabi hanyalah seseorang yang berhati besar memikirkan umatnya agar selamat sampai akhir zaman, dia mungkin mengatakan; "jauhilah yang buruk"... yaitu sebuah perintah maka saya yakin bahwa semua orang akan mempertanyakan titahnya. Akan tetapi jika sang Nabi menggunakan cerita, siapapun pendengarnya akan lebih bisa menerima dan mengerti. Jadi cerita adalah media untuk menyampaikan sebuah pesan, sebuah nilai, mengapa ? karena cara itu pasti lebih menarik daripada menerima perintah saja. Kita tidak mengatakan, menetapkan atau memerintahkan mana nilai yang baik ataupun yang buruk, tetapi kita menceritakan hal itu.
Kita sudah tahu salah satu aspek penting dalam cerita yakni perubahan dalam karakter, namun bagaimana kita mengasosiasikan cerita itu kepada para penonton? jawabannya adalah "pilihan". Hal ini tentu bukan sebuah retorika belaka, karena semua ahli mengambil sebuah model pendekatan yang sangat generik intinya perubahan tidaklah mungkin kuat bila terjadi atau melalui dorongan dari luar (eksternal) harus terjadi dari dalam (internal). Perubahan tidak hanya berwujud nyata namun harus bersifat secara abstrak (pemikiran, ideologi).
Bercerita, berdongeng atau storytelling, adalah sebuah cara yang menarik untuk menyampaikan sebuah nilai. Inilah mengapa orang mencoba memasukan aspek - aspek penting dalam bercerita untuk kemudian digabungkan dalam penyampaiannya sehingga para pendengar dapat secara tanggap mudah mengerti nilai yang ingin disampaikan. Maka itulah mengapa banyaknya sebuah nilai dalam masyarakat dilihat dari banyaknya cerita/dongeng yang tersebar dalam masyarakat itu. Cerita, seperti halnya sebuah struktur memiliki rumus dan sangat mudah untuk dipelajari.
Ketika pertama kali mengajak anda untuk belajar menulis skenario atau cerita, saya akan mencoba menjelaskan banyak hal, semua itu adalah bagian dari sebuah cerita. Ada karakter, plot, struktur dan lain sebagainya yang menjadi aspek - aspek dalam cerita. Dahulu, kita ingat bahwa sebuah cerita disampaikan agar kita sendiri dapat mengerti pesan. Kayaknya sudah mendengar semua jenis cerita, seperti Kancil, Semar, Gatot Kaca, Batman, Sangkuriang, Kabayan, Alladin, Saori Hara, Miyamoto Mushashi dan masih banyak lagi, dijadikan dalam bentuk sebuah cerita. Cerita - cerita ini menjadi bagian dari hidup para pembaca. Intinya cerita itu mempengaruhi kita, cerita menjadi bagian dari pemikiran - pemikiran kita, entah itu cara kita lintasan gagasan, bertindak atau berbicara, cerita memberikan kita sebuah "contoh". Melalui cerita kita seolah mengalaminya sendiri, dan pada saat itu kita bisa merasakan "proses" adanya perubahan (dari tidak tahu menjadi tahu).
Katakanlah "contoh" itu adalah sebuah inspirasi, maka cerita adalah sebuah pesan yang mempengaruhi keberadaan kita dan banyak orang di berbagai dunia. Kita punya cerita dan ingin berbagi, karena kita merasa bahwa cerita kita sungguh baik dan bisa menjadi "contoh" untuk orang lain. Pada beberapa titik tertentu, kita ingin mempengaruhi orang lain... kita ingin mempengaruhi cara dunia berputar. Katakanlah, apapun yang mempengaruhi manusia itu adalah "nilai" maka kita ingin merasakan "nilai" tersebut dan mengajak orang untuk turut merasakannya. Embracing Value, mungkin kata yang lebih tepat untuk digunakan dalam membicarakan "nilai" dalam hal ini. "Cerita Kita" adalah sebuah ide mengenai bagaimana kita melihat dunia, dan "cerita" adalah media dimana kita ingin berbagi perasaan dan pengalaman itu kepada orang lain. Inilah inti dari sebuah cerita, berbagi pengalaman, perasaan dan "nilai" dan semacamnya.
Seorang Nabi hanyalah seseorang yang berhati besar memikirkan umatnya agar selamat sampai akhir zaman, dia mungkin mengatakan; "jauhilah yang buruk"... yaitu sebuah perintah maka saya yakin bahwa semua orang akan mempertanyakan titahnya. Akan tetapi jika sang Nabi menggunakan cerita, siapapun pendengarnya akan lebih bisa menerima dan mengerti. Jadi cerita adalah media untuk menyampaikan sebuah pesan, sebuah nilai, mengapa ? karena cara itu pasti lebih menarik daripada menerima perintah saja. Kita tidak mengatakan, menetapkan atau memerintahkan mana nilai yang baik ataupun yang buruk, tetapi kita menceritakan hal itu.
Kita sudah tahu salah satu aspek penting dalam cerita yakni perubahan dalam karakter, namun bagaimana kita mengasosiasikan cerita itu kepada para penonton? jawabannya adalah "pilihan". Hal ini tentu bukan sebuah retorika belaka, karena semua ahli mengambil sebuah model pendekatan yang sangat generik intinya perubahan tidaklah mungkin kuat bila terjadi atau melalui dorongan dari luar (eksternal) harus terjadi dari dalam (internal). Perubahan tidak hanya berwujud nyata namun harus bersifat secara abstrak (pemikiran, ideologi).
Bercerita, berdongeng atau storytelling, adalah sebuah cara yang menarik untuk menyampaikan sebuah nilai. Inilah mengapa orang mencoba memasukan aspek - aspek penting dalam bercerita untuk kemudian digabungkan dalam penyampaiannya sehingga para pendengar dapat secara tanggap mudah mengerti nilai yang ingin disampaikan. Maka itulah mengapa banyaknya sebuah nilai dalam masyarakat dilihat dari banyaknya cerita/dongeng yang tersebar dalam masyarakat itu. Cerita, seperti halnya sebuah struktur memiliki rumus dan sangat mudah untuk dipelajari.
Seorang penulis adalah seorang insinyur, dia menggunakan beragam rumus dan juga teori untuk bisa menyampaikan narasi sehinnga mampu merubah pembacanya.
0 Komentar